1.254 Desa di Jawa Tengah Rawan Kekeringan

METROSEMARANG.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mulai menerapkan status siaga kekeringan. Sampai saat ini ada terdapat 1.254 desa di 30 kabupaten/kota yang masuk kategori rawan kekeringan.

Sarwa Pramana
Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwa Pramana saat ditemui di kantornya, Jumat (4/8) siang. Sarwa mengatakan pihaknya kini telah melakukan pengajuan surat keputusan siaga kekeringan tingkat provinsi yang kini maaih dalam proses penandatanganan Gubernur.

“Pengeluaran keputusan siaga tingkat provinsi baru bisa diajukan ketika ada minimal dua kabupaten/kota yang resmi mengeluarkan siada kekeringan. Ini suratnya sudah di gubernur mungkin minggu depan sudah keluar,” ujar Sarwa.

Di Jawa Tengah sendiri ada tiga wilayah yang telah mengeluarkan keputusan bupati mengenai siaga kekeringan. Ketiganya yakni Temanggung, Boyolali, dan Kebumen.

Sementara itu, dari hasil pemetaan Daerah Rawan Bencana (DRB) yang dilakukan oleh BPBD Jateng ada 30 kabupaten dan kota yang rawan kekeringan. Dari puluham kabupaten/kota tersebut tersebar di 275 kecamatan dan 1.254 desa dengan cakupan 1.412.161 jiwa yang terdampak.

Darijumlah tersebut sudah ada 10 daerah yang mendapat dropping air bersih sebanyak 158 tangki untuk 22 kecamatan dengan 46 desa. “Dan terbanyak di Banyumas sebanyak 41 kali dropping,” imbuh Sarwa.

Selain itu, Sarwa juga mengatakan efek dari bencana kekeringan itu menyebabkan terjadinya kebakaran dan kekurangam air untuk pertanian. Untuk kebakaran sendiri, sebagian beaar terjadi karena ulah tangan manusia.

“Seperti halnya pendaki yang tidak tuntas memadampak api unggun karena di atas gunung kan anginnya kencang, orang yang melintas di hutan dan kurangnya kesadaran lalu membuang putung rokok sembarangan, dan para petami yang membakar alang-alang untuk mempermudah proses pencangkulan,” imbuh Sarwo.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada para pendaki maupun para penjaga hutan lindung untuk terus berhati-hati dan waspada. Untuk masyarakat yang melintas di area hutan saat berkendara untuk tidak membuat putung rokok sembarangan.

“Lalu untuk masyarakat pengelola lahan jangan membakar alang-alang lalu ditinggal,” pungkas Sarwa. (fen)