Home > METRO BERITA > 11 Bulan, 2.400 Perempuan dan Anak di Jateng jadi Korban Kekerasan

11 Bulan, 2.400 Perempuan dan Anak di Jateng jadi Korban Kekerasan

METROSEMARANG.COM – Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jawa Tengah menemukan jumlah laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang periode Januari hingga November 2016, telah menembus angka 2.400 orang. Jumlah tersebut meningkat 30 persen dibanding tahun lalu.

Diskusi "Waroeng HAM" di Mukti Kafe, Jumat (25/11). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Diskusi “Waroeng HAM” di Mukti Kafe, Jumat (25/11). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Dari jumlah tersebut, menurut Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BP3AKB Jateng, Sri Winarno, terdapat sekitar 1.845 kasus kekerasan yang menimpa anak, sedangkan sisanya 555 kasus menimpa perempuan.

Ia lantas menyebut kasus tertinggi rupa-rupanya terjadi di Kota Semarang kemudian di posisi kedua ditempati Kabupaten Semarang, lalu Kendal, Wonosobo, Cilacap dan Demak. “Itu enam daerah yang pengaduan kasusnya diatas 100 korban. Ini sangat ironis ditengah gencarnya penyuluhan yang dilakukan pemerintah,” kata Winarno, Jumat (25/11).

Angka kekerasan perempuan dan anak pada 2016 merupakan temuan tertinggi sejak beberapa tahun terakhir. “Terus terang saya sangat terkejut ketika mendapati data laporan kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak selama 11 bulan terakhir, sebab temuan pada tahun ini naik hampir 30 persen bila dibanding tahun lalu,” ungkapnya.

Ia pun menyatakan publikasi pelecehan seksual yang seringkali muncul di media masa, justru memicu maraknya aksi kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Hal itu, kata Winarno diperparah dengan himpitan ekonomi yang mendera tiap keluarga di area perkotaan serta beberapa faktor lainnya.

“Yang jelas, media massa malah berperan menimbulkan kasus-kasus baru di tengah masyarakat. Lalu faktor kedua disebabkan permasalahan ekonomi disamping banyaknya pelecehan seksual yang terjadi belakangan ini,” katanya.

Di lain pihak, para aktivis dari berbagai daerah sore ini memulai kampanye 16 hari Anti Kekerasan Perempuan di Semarang. Bertempat di Mukti Kafe Jalan KH Wahid Hasyim Kranggan, kampanye tersebut diinisiasi oleh LBH APIK dan PKBI Jateng.

Dua lembaga tersebut berkolaborasi karena punya misi memupus kejahatan terhadap perempuan. Mereka berulang kali juga menyebutkan bahwa Kota Semarang dan Demak menempati peringkat teratas terkait laporan kekerasan perempuan.

“Namun, masih banyak korban yang enggan melapor karena cenderung malu kepada keluarganya dan beberapa yang lain masih takut,” kata Nika Vera Ardiani, Koordinator Divisi Pelayanan Hukum di LBH APIK.

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Perempuan digelar serentak di daerah lainnya guna mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Tanah Air bahkan dunia. Rangkaiannya digelar tepat saat peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November-10 Desember 2016 nanti ketika Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional berlangsung. (far)

Tinggalkan Balasan