Home > METRO BERITA > METRO SPORT > 5 Alasan PSIS Layak Promosi ke ISL

5 Alasan PSIS Layak Promosi ke ISL

 

Kekompakan jajaran manajemen dan tim pelatih menjadi salah satu kekuatan PSIS musim ini. Foto Metrosemarang
Kekompakan jajaran manajemen dan tim pelatih menjadi salah satu kekuatan PSIS musim ini. Foto Metrosemarang

SEMARANG –  Lolosnya PSIS ke babak 8 besar memang patut disyukuri, tapi ada target lebih tinggi yang harus dicapai armada Mahesa Jenar: promosi ke Indonesia Super League. Jika melihat kekuatan PSIS musim ini, sudah sepantasnya pecinta sepakbola Semarang menaruh harapan di pundak Yoyok Sukawi sebagai pemegang kendali untuk mengembalikan klub yang berdiri di tahun 1932 itu ke kasta tertinggi sepakbola nasional. Apa alasannya?

Manajemen Solid

Saat Yoyok Sukawi memutuskan ‘turun gunung’ untuk mengelola PSIS, menjadi titik balik kebangkitan Laskar Mahesa Jenar. Semua orang juga sudah paham dengan kapasitas Yoyok dalam mengelola sebuah klub sepakbola.

Politisi Demokrat ini juga cermat memilih orang-orang yang tepat untuk masuk dalam jajaran manajemen. Kairul Anwar, Setyo Agung Nugroho, dan Wahyu ‘Liluk’ Winarto bukanlah orang baru di dunia sepakbola. Mereka juga sudah sangat mudeng dalam menggarap sebuah klub sepakbola, baik sisi teknis maupun non-teknis.

“Kekompakan semua orang yang terlibat di dalam PSIS, menjadi salah satu kunci keberhasilan tim ini menembus 8 besar,” sebut Kairul Anwar, General Manager PSIS.

Persiapan Matang

Persiapan matang menjadi salah satu bentuk keseriusan PSIS untuk menapak ke tangga ISL. Saat tim-tim lain masih sibuk merampungkan masalah di musim sebelumnya, tim yang bermarkas di Stadion Jatidiri ini sudah mulai menggelar seleksi pemain sejak November 2013 atau lima bulan sebelum kompetisi digulirkan.

Dengan persiapan yang cukup panjang, memudahkan pelatih Eko Riyadi untuk memadukan pemain-pemain PSIS. Saat lolos ke babak 16 besar, tak sedikit yang menganggap hasil tersebut didapat lantaran keberuntungan PSIS yang mendapat grup ringan. Tapi, setelah sukses melewati hadangan Pro Duta, PSCS dan Persikabo, menjadi pembuktian bahwa Fauzan Fajri cs memang layak menjadi kandidat juara Divisi Utama musim ini.

Skuad Merata

Dengan dana yang tak terlalu besar, sudah sepantasnya manajemen Mahesa Jenar tak berani jor-joran membelanjakan uang. Di awal pembentukan, tak ada nama-nama tenar yang bersedia bergabung ke dalam armada Eko Riyadi. Ronald Fagundez dan Julio Alcorse, dua pemain impor yang digaet juga bukan pemain-pemain papan atas.

Tapi, kejelian manajemen dan tim pelatih untuk berburu pemain-pemain yang tepat, menghasilkan skuad PSIS yang cukup solid. Keberhasilan membajak duo Persijap, Anam Sahrul dan Ahmad Nufiandani di paruh kedua putaran grup, juga menjadi kunci kekuatan pasukan Biru-Biru.

Tim ini punya kekuatan merata di semua lini. Eko Riyadi punya dua striker yang cukup produktif, Hari Nur dan Julio Alcorse. Keduanya sudah mengemas 19 gol, dari 40 gol yang dihasilkan PSIS sampai babak 16 besar. Di pos sayap, ada Nufiandani dan Franky Mahendra yang siap bersaing untuk menjadi partner Ronald Fagundez. Di barisan pertahanan, Eko cukup tenang dengan solidnya duet Anam Sahrul dan Fauzan Fajri. Jika salah satu berhalangan, Safrudin Tahar atau Sunar Sulaiman juga siap mengisi.

Suporter Fanatik

PSIS cukup beruntung punya ribuan suporter fanatik yang selalu menemani saat mereka berlaga di kandang. Jangan heran jika gelandang Pro Duta Donny Siregar, yang juga pernah berseragam PSIS merasa iri dengan fanatisme suporter Semarang.

Dukungan suporter itu sangat krusial untuk mendongkrak penampilan PSIS. Kehadiran mereka dengan memenuhi stadion juga sangat vital untuk menghidupi tim. Tak berlebihan jika di setiap pertandingan kandang, panpel maupun manajemen selalu mengkampanyekan slogan ‘No Ticket, No Game’ untuk membangkitkan kesadaran penonton membeli tiket.

Lapar Gelar

Rasa lapar meraih sukses inilah yang coba dibangun Yoyok Sukawi dan jajarannya demi menghadirkan prestasi ke Kota ATLAS. Jika ukuran sukses adalah trofi juara, PSIS sudah terlalu lama tidak merasakannya.

Musim 1998/1999 adalah kali terakhir gelar juara Liga Indonesia  mampir ke Semarang. Gelar itu pernah sangat dekat ketika di musim 2006, PSIS menapak hingga ke puncak, sebelum ditaklukkan Persik Kediri.

Klub berlogo Tugumuda ini juga sudah terlalu lama terdampar di Divisi Utama. Lima musim sudah PSIS harus bertarung di kompetisi kasta kedua. Rasa lapar tak hanya milik pemain maupun jajaran manajemen, tapi juga suporter dan masyarakat Kota Semarang. “Jika semua mau peduli kepada PSIS, kita bisa membangun kekuatan yang dahsyat untuk menghadirkan prestasi,” kata Yoyok Sukawi. (*)