Home > METRO BERITA > KULINER > 5 Bangunan Bersejarah di Semarang yang Sudah Hilang

5 Bangunan Bersejarah di Semarang yang Sudah Hilang

Ilustrasi Mall Paragon yang dulunya lokasi gedung GRIS (foto: Edwin Roseno/www.skyscrapercity.com)
Ilustrasi Mall Paragon yang dulunya lokasi gedung GRIS (foto: Edwin Roseno/www.skyscrapercity.com)

Kota Semarang semakin berkembang. Semarang saat ini tidak hanya kota besar, melainkan kota metropolitan layaknya Jakarta. Sayangnya, perkembangan kota telah merugikan keberadaan beberapa saksi bisu sejarah di kota ini.

Di mana-mana dibangun ruko dan pusat perbelanjaan. Bangunan-bangunan bersejarah makin tak tampak, bahkan ada yang sengaja dirobohkan demi kepentingan bisnis. Padahal, bangunan-bangunan kuno di Semarang adalah bukti bahwa Semarang pernah menjadi kota yang cukup penting di masa lalu, ketika negeri ini masih dikuasai para penjajah.

Lalu, bangunan bersejarah apa saja yang hilang? Berikut ini Metro Semarang sajikan daftarnya.

1. Istana Balekambang

Istana Balekambang adalah sebutan untuk rumah berikut taman, kebun, kolam, kebun binatang dan paviliun yang berada dalam kompleks rumah Raja Gula dari Asia, Oei Tiong Ham.

Kegagahan istana yang berlokasi di kawasan Gergaji, Jalan Pahlawan, hanya dapat kita saksikan melalui foto lawas. Sedangkan bangunan aslinya telah dirobohkan dan dijadikan kantor Polda Jateng, Balai Prajurit, serta pemukiman padat penduduk. Istana Oei Tiong Ham yang tersisa adalah Bernic Castle, yang kini menjadi gedung resepsi pernikahan.

2. Pasar Bulu

Salah satu tetenger Kota Semarang yang menyimpan sejarah adalah Pasar Bulu. Sayang, bangunan asli pasar yang dirancang oleh arsitek Thomas Karsten ini telah terlanjur dirobohkan, termasuk tiang berbentuk cendawan yang menjadi ciri khas gedung.

3. Gedung Pengadilan Pribumi

Dulu, terdapat pengadilan khusus untuk orang-orang pribumi. Letaknya berada di Heeren Straat, dekat Koepelkerk, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Gereja Blenduk. Gedung ini sekarang sudah berubah fungsinya, dan menjadi restoran hingga saat ini.

4. Gedung GRIS

Gedung ini dulunya adalah tempatnya para meneer dan mevrof Belanda untuk hangout. Dulu namanya Societeit de Harmonie, atau biasa disebut gedung Harmonie. Gedung ini kemudian dijual ke Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM).

Masyarakat Semarang waktu itu saling iuran untuk membeli lahan di samping Gedung Harmonie, untuk kemudian dijadikan Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). Tahun 1950, masyarakat Semarang membeli Gedung Harmonie dengan cara iuran sedikit demi sedikit. Pembayaran gedung dilaksanakan dua kali, sebelum akhirnya lunas dan jadi milik rakyat Semarang. Gedung GRIS kemudian menjadi pusat hiburan warga saat itu. Salah satu hiburan yang jadi favorit masyarakat adalah wayang orang Ngesti Pandawa, yang meraih masa jayanya pada tahun 1970 hingga 1980-an.

Sayangnya gedung ini kini telah runtuh tak bersisa, digantikan sebuah bangunan bernama Paragon Mall.

5. Gedung Schouwburg

Hampir sama seperti Gedung Harmonie, Schouwburg dulunya juga adalah tempat nongkrong favorit meneer dan mevrof Belanda. Mereka gemar menonton sandiwara tonil di gedung ini. Sayang, gedung yang dulunya megah dan artistik ini kini telah roboh.

Beruntung masih ada beberapa plafon dan tiang yang bisa diselamatkan dan direkonstruksi menyerupai bangunan aslinya. Gedung rekonstruksi ini terkenal dengan nama Marabunta, yang berarti semut merah raksasa.

Selain kelima bangunan tersebut, masih banyak lagi bangunan bersejarah di Semarang yang telah roboh, hilang, terendam rob, maupun berganti menjadi bangunan lain. Para generasi muda dipastikan tidak akan melihat betapa gagahnya Kota Semarang dulu. Kini, hanya orang tua maupun kakek nenek kita yang masih dapat menyaksikan bangunan-bangunan bersejarah yang menunjukkan betapa metropolisnya Semarang kala itu, dalam kenangan mereka. (ren)