Home > METRO BERITA > KULINER > Ekonomi Lesu, Perputaran Omzet Pedagang Festival Kuliner Merosot

Ekonomi Lesu, Perputaran Omzet Pedagang Festival Kuliner Merosot

METROSEMARANG.COM – Penurunan laju perekonomian nasional berdampak terhadap perputaran bisnis kuliner yang ada di Semarang. Bahkan, dalam gelaran Festival Lezaatnesia di Mal Sri Ratu, Jalan Pemuda, pihak panitia menyebutkan perekonomian yang lesu jadi tantangan terberat bagi para peserta festival.

Seorang penjual Sosis Lilit Crispy tampak menunjukan proses pengolahan masakannya di Festival Lezaatnesia, Mal Sri Ratu Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Tahun ini tentunya jadi hal terberat bagi kami untuk meraup omzet yang maksimal dalam setiap ajang festival kuliner. Sebab, ekonomi nasional sedang lesu. Ini sangat berpengaruh pada pendapatan setiap pedagang,” ungkap Firdaus Adinegoro, Koordinator Komunitas Kuliner Semarang kepada¬†metrosemarang.com, Jumat (8/9).

Meski pengunjung festival selalu membeludak, namun ia mengatakan bila tahun ini rata-rata pedagang justru mengalami penurunan pendapatan bila dibanding tahun lalu.

Ia bilang setiap pedagang hanya bisa mendapat keuntungan yang mepet lantaran harga bahan baku makanan yang terus bergerak naik.

“Misalnya sehari jualannya ludes dibeli pengunjung, tetapi sebenarnya hasil yang mereka dapatkan sangat mepet. Ya mau gimana lagi, harga-harga bumbu pada naik semua. Sementara makanan yang dijual harganya tidak pernah berubah. Untungnya kita terbantu dengan pangsa pasar yang makin stabil,” jelasnya.

Komunitas Kuliner Semarang, katanya punya trik jitu untuk menggaet ribuan pengunjung di setiap acara festival. Pihak panitia kerap menyeleksi ketat penjual makanan yang ingin berpartisipasi dalam acara tersebut.

Ia mengaku tak sembarangan bisa memasukan penjual makanan jadi peserta festival. Setiap kesempatan, ia selalu melakukan uji coba citarasa masakan apakah layak disajikan kepada pengunjung atau tidak.

“Karena kebanyakan peserta festival kuliner berasal dari home made. Sehingga butuh seleksi ketat agar citarasa menunya tetap terjaga. Jangan sampai ketika ditampilkan di medsos keliatannya enak, tapi pas disajikan rasanya bikin kecewa pembeli. Kepercayaan pembeli yang patut kita jaga,” ujar Firdaus.

Untuk tahun ini, pihaknya menggelar sekitar enam kali festival kuliner yang mengusung tema beragam. Menurutnya, ajang Festival Lezaatnesia menjadi momentum pamungkas untuk mengakhiri gelaran rangkaian festival kuliner pada tahun ini. Jumlah pengujungnya diprediksi mencapai 7.000 orang hingga tanggal 10 September nanti.

“Sepertinya ini jadi festival yang terakhir. Tahun depan kita bikin lagi yang lebih meriah. Semoga saja perekonomian nasional bisa berangsur pulih,” terangnya. (far)