Home > METRO BERITA > Nasib Mimbar Peninggalan Bung Karno di Gedung SI Kini Mangkrak dan Berdebu

Nasib Mimbar Peninggalan Bung Karno di Gedung SI Kini Mangkrak dan Berdebu

METROSEMARANG.COM – Sebuah gedung bekas markas Sarekat Islam (SI) di Semarang tertutup rapat, pada Selasa (12/9) siang. Terdapat gembok yang mengunci rapat kedua daun pintu pada gedung bersejarah tersebut.

Gedung Sarekat Islam (SI), saksi bisu peristiwa G30SPKI di Semarang.
Gedung Sarekat Islam (SI). Di dalamnya terdapat sebuah mimbar kuno yang konon pernah dipakai Soekarno untuk memompa perjuangan para pemuda. Foto: metrosemarang.com/dok

Sekretaris Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang Yunantyo Adi Setyawan menyebut Gedung SI kini dikelola pihak Yayasan Balai Muslimin (Yabami). Anggota yayasan tersebut terdiri dari kader-kader NU, Muhammadiyah, dan ormas Sarekat Islam Anwar Tjokroaminoto.

Ia menerangkan bahwa gedung SI sudah berulang kali mengalami pergantian pengelolaan sejak meletusnya Pemberontakan 1926/1927 di Indonesia.

Tokoh-tokoh yang kerap memakai bangunan itu mulai pentolan PKI Semaun, Darsono, Haji Boesro, pendiri SI HOS Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Alimin, Tan Malaka, Bergsma, tokoh Empat SekawanTjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, hingga Presiden Pertama Indonesia, Ir Soekarno.

Ada satu kisah unik pada sejarah gedung SI. Menurut Yunantyo, di dalamnya terdapat sebuah mimbar kuno yang dibuat kisaran tahun 1919-1920. Saat zaman pergolakan, mimbar itu konon pernah dipakai Soekarno untuk memompa perjuangan para pemuda.

Dari berbagai literasi sejarah yang dihimpun, ia menyatakan “Di atas mimbar tersebut, Bung Karno membakar semangat para pemuda yang berjuang di jalur pro-kemerdekaan RI,” ungkapnya.

Secara fisik, mimbar tua berbahan kayu jati berukuran tinggi satu meter dan lebar dua meter itu tampak biasa. Namun, dari sisi artistik ukirannya menunjukkan bahwa benda tersebut sarat sejarah. Meski begitu, kondisi fisik mimbar kini tak semua utuh. Hanya menyisakan bentuk kotak berdebu tanpa pilar dan anak tangganya yang kini telah hilang.

Melalui mimbar itu, Soekarno sering melakukan rapat konsolidasi bersama dengan Mr Sartono yang saat itu memimpin Partai Indonesia (Partindo).

“Tentunya konsolidasi terkait perlawanan para pemuda terhadap penjajahan Belanda,” tambahnya.

Setelah kejadian pemberontakan rakyat melawan kolonial Belanda di Banten pada Desember 1926, gedung Sarekat Islam sempat digembok oleh Komite Perawat Gedung serta ditutup militer Belanda sampai 1929 silam.

Sukarno waktu mampir Gedung SI kemudian bergabung dengan Partindo. “Waktu itu tidak gabung dengan PNI-nya Hatta-Sjahrir, ” ujarnya.

Keberadaan mimbar orasi Soekarno di Gedung SI pun pernah disebut-sebut dalam buku sejarah. Naszir wakaf Gedung SI, Syamsuddin Hamidy menyebut sejarawan Amen Budiman pernah melakukan pemeran seni di gedung SI pada tahun 1980-an. Pameran itu memuat foto-foto Soekarno saat berpidato di mimbar gedung SI.

Cerita Sukarno berpidato itu ada juga di testimoni yang ditulis Yayasan Perintis Kemerdekaan Cabang Semarang pada tahun 1980 silam.

Karenanya, ia pun berharap apa yang ada di gedung SI bisa terus dijaga. Terlebih gedung tua sarat sejarah itu sempat terancam hilang akibat tidak terurus selama puluhan tahun. (far)