Hendi Beberkan Strategi Tingkatkan Reformasi Birokrasi

METROSEMARANG.COM – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi kembali didapuk untuk menularkan keberhasilannya dalam menerapkan konsep Semarang Smart City dalam forum bertajuk Sosialisasi dan Internalisasi Reformasi Birokrasi Pemerintah Daerah yang digelar oleh Kementerian Dalam Negeri, Selasa (19/9), di Hotel Aryaduta Jakarta Pusat.

Wali Kota Hendrar Prihadi di acara Sosialisasi dan Internalisasi Reformasi Birokrasi Pemerintah Daerah yang digelar oleh Kemendagri, Selasa (19/9). Foto: istimewa

Kota Semarang terus menjadi percontohan bagi daerah lain khususnya dalam implementasi Smart City untuk peningkatan ekonomi daerah. Setelah sebelumnya, Hendrar Prihadi juga diundang dalam konferensi bertajuk Indonesia Future City 2017 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) building BSD.

Dalam rilis Humas Setda Kota Semarang ke metrosemarang.com, wali kota yang akrab disapa Hendi, menjadi nara sumber bersama dengan CEO Citiasia, Faria Subhkan dan Direktur Hubungan Lembaga Transaksional Banking PT BNI Persero Tbk. Dengan mengangkat tema Smart Birokrasi dalam peningkatan Ekonomi Daerah.

Hendi membeberkan strategi bagaimana implementasi smart birokrasi untuk meningkatkan perekonomian, tahapan-tahapan yang dilakukan dalam memajukan perekonomian sehingga Kota Semarang layak diperhitungkan sebagai salah satu Smart City terdepan di Indonesia.

Dikatakan Hendi, implementasi smart city Kota Semarang mulai berjalan sejak 2013. Kemudian tahun 2014 mulai membangun infrastruktur jaringan dan free wifi di 2.300 titik. Melangkah di tahun 2015 dan 2016 meluncurkan 148 sistem dan aplikasi e-government dan penandatanganan komitmen smart government dengan seluruh perangkat daerah.

‘’Dan tahun 2017 ini memperkuat smart society dengan meluncurkan sistem pembayaran nontunai yang diujicobakan pada Bus Rapid Trans Semarang, jalan-jalan tol yang ada di Semarang, belanja di swalayan, pajak dan retribusi, kafe dan restoran serta bantuan sosial,’’ ungkapnya.

Dia melanjutkan, untuk meningkatkan perekonomian daerah, tentu yang pertama harus dipermudah adalah izin pelaku usaha yang akan menanamkan investasinya di Kota Semarang.

Inovasi tersebut menurutnya berdampak baik terhadap peningkatan jumlah usaha di Kota Semarang. Tercatat di tahun 2011 di Kota Semarang terdapat 110 hotel, sementara pada semester I tahun 2017 meningkat pesat menjadi 301 hotel. Begitu pula jumlah restoran di Kota Semarang juga mengalami peningkatan dari 463 restoran di tahun 2011 menjadi 825 restoran pada semester I tahun 2017. (duh)