Home > Berita Pilihan > Isu Penutupan Kian Santer, Nasib Sunan Kuning di Ujung Tanduk

Isu Penutupan Kian Santer, Nasib Sunan Kuning di Ujung Tanduk

METROSEMARANG.COM – Sabtu siang (30/9), situasi di Resos Argorejo Kalibanteng, tampak lengang. Kawasan yang mahsyur dengan nama Lokalisasi Sunan Kuning itu hanya ada beberapa warga yang wara-wiri.

Kompleks Lokalisasi Sunan Kuning
Foto: metrosemarang.com/dok

Rumah-rumah karaoke terlihat tertutup rapat. Menurut penuturan pengelola lokalisasi, kondisi di wilayahnya cenderung sepi bila dibanding hari-hari biasanya.

“Jumlah pekerja seks di sini sekarang hampir habis. Tinggal 30 persen saja. Mereka rata-rata takut melayani tamunya karena isu penutupan lokalisasi semakin santer terdengar,” kata Suwandi Eko Putranto, Ketua Resos Argorejo, saat ditemui metrosemarang.com di Gedung Serbaguna Resos.

Ia mengatakan isu penutupan Sunan Kuning bukanlah isapan jempol belaka. Pasalnya, ia sendiri telah menerima Surat Keputusan (SK) dari Dinas Sosial Kota Semarang terkait kebijakan penutupan semua lokalisasi di Indonesia oleh Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa.

“Bu Khofifah mengeluarkan SK penutupan sudah enam bulan lalu. Makanya, untuk mempersiapkan hal tersebut, kami sekarang fokus ke bisnis karaoke saja,” bebernya.

Menurutnya akibat kebijakan Mensos itu, membuat semua warganya semakin was-was. Apalagi, aparat kepolisian serta Satpol PP kian gencar merazia pekerja seks Sunan Kuning.

Alhasil, ketimbang terjerat hukum, sejumlah pekerja seks ada yang memilih berpindah kos-kosan di luar kompleks Sunan Kuning.

“Mereka takut dirazia juga. Akibatnya, jumlah tamu kami turun drastis sampai 50 persen. Saat ini kondisinya sangat lesu. Pas ramainya ya hanya malam Minggu,” akunya.

Upaya lainnya, kata Suwandi ialah dengan menggencarkan pelatihan tata boga bagi para pekerja seks setempat. Bagi Suwandi, dengan melatih tata boga, maka sama artinya dengan memanusiakan para pekerja seks.

“Walaupun kami dianggap orang buangan, tetapi kami ingin menjadi lebih baik ketika lokalisasi ditutup nanti,” kata Suwandi.

Bersama Dinas Sosial, para pekerja seks berlatih memasak, membuat kue dan aneka panganan lainnya. Sebulan mereka dilatih dua kali.

Mulai Oktober besok, Suwandi juga diminta melatih pekerja seks di bidang tata boga secara mandiri. “Lha piye meneh ini kan sudah jadi program saya. Harus bisa berusaha keras berjuang sendiri karena sampai sekarang belum ada bantuan dari Pak Wali Kota,” imbuhnya.

Ia masih menggantungkan secercah harapan kepada Pemerintah Kota Semarang agar dapat mengkaji penutupan Sunan Kuning. Ia tidak ingin melihat semua penghuni resos kehilangan mata pencahariannya khususnya pekerja seks yang dikhawatirkan kembali beroperasi di jalan raya.

“Ketika zaman Reformasi juga pernah tutup sebentar. Akibatnya, banyak PSK menjajakan diri di jalan rsya. Istilah ciblek pasti bakal bermunculan lagi. Saya hanya tidak ingin hal itu terjadi lagi,” ungkapnya.

Sembari melatih tata boga, pihaknya masih rutin menggelar pemeriksaan kesehatan bagi pekerja seks.  Seminggu dua kali lima petugas Puskesmas Kalibanteng Kulon mengecek kesehatan vagina, gula darah serta IMS. (far)