Beranda METRO BERITA Aktor Kawakan Teater Lingkar Hibur Warga Bustaman

Aktor Kawakan Teater Lingkar Hibur Warga Bustaman

BERBAGI
Teater Lingkar pentas 'Sekolah Unggulan' di lorong Kampung Bustaman dalam Bok Cinta, Sabtu (14/2). Foto Metrosemarang/Anton Sudibyo
Teater Lingkar pentas ‘Sekolah Unggulan’ di lorong Kampung Bustaman dalam Bok Cinta, Sabtu (14/2). Foto Metrosemarang/Anton Sudibyo

SEMARANG – ‎Tengok Bustaman II “Bok Cinta” masih berlangsung di Kampung Bustaman, Sabtu (14/2). Malam ini tampil kelompok Teater Lingkar yang membawakan lakon “Sekolah Unggulan”.

Meski berkesan pentas seadanya dengan panggung di lorong rumah warga, namun Lingkar membawa kekuatan penuh. Hampir semua dedengkot Lingkar turun langsung di pentas yang dimulai pukul 20.30 itu.

Sebut saja Budi Bobo, Prieh Raharjo, dan Wiwik. Para aktor kawakan itu berkolaborasi dengan sejumlah aktor muda. Pimpinan Lingkar sekaligus sutradara Mas Ton, memimpin langsung pentas yang naskahnya ditulis Prie GS itu.

Sekolah Unggulan menceritakan sebuah sekolah yang konon paling favorit di sebuah kota. Sekolah itu mengklaim sebagai lembaga pendidikan dengan sistem pengajaran termutakhir.

Untuk dapat lulus dari sekolah itu, para siswa harus mengikuti ujian. Tapi ujian yang digelar ternyata hanya mementingkan hal-hal permukaan. Meski bodoh, asal bisa menyenangkan para guru, siswa itu akan lulus. Sebaliknya ‎meski pintar tapi tidak bisa menyenangkan guru, siswa itu tidak akan lulus.

Kebobrokan sistem ‎pendidikan menjadi tema yang diangkat lakon ini. Pada sebuah adegan, seorang siswa yang mampu menembang Jawa sangat bagus malah tidak diluluskan. Sedangkan siswa yang hanya bisa membaca puisi dan menyanyi sangat buruk malah bisa lulus.

‎Lakon yang berdurasi sekitar satu jam setengah itu menyedot perhatian ratusan penonton. Penampilan Lingkar yang cair dan komedial memancing tawa riuh sepanjang pementasan.

Selain warga Bustaman sendiri, sejumlah penikmat seni Semarang nampak di antara deretan hadirin. Diantaranya, budayawan Djawahir Muhammad, Ketua FK Metra Jateng St Sukirno, dan anggota DPD RI Bambang Sadono.

Bok Cinta sendiri masih berlangsung hingga Senin (16/2). ‎Pada Minggu (15/2) di Bustaman digelar artist talk ‘Seni di Ruang Publik’ bersama Asep Topan, Tubagus P Svarajati, dan Djawahir Muhammad. Dilanjutkan ‎Temu Kampung ‘Relevansi Kampung Kota dalam Kekinian’ dengan pemantik dosen planologi dan arsitek Universitas Diponegoro.

‎Pada Senin (16/2), lokasi berpind‎ah di Grobak Art Kos, Jalan Stonen 29. Di ‎markas Komunitas Hysteria itu digelar pembukaan pameran arsip proses ‘Bok Cinta’ dilanjutkan pemutaran film Jerman bersama Goethe Institute.(byo)