Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Anastasia Widyawati, Terinspirasi Fallingwater

Anastasia Widyawati, Terinspirasi Fallingwater

INSPIRASI bisa datang dari siapa saja. Begitu pula yang dialami Anastasia Kenik Widyawati. Tasya begitu sapaan akrabnya merupakan mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang.

Foto: dok pribadi

Pilihan Tasya mengambil program studi arsitektur ia akui lantaran terinspirasi dari saudaranya seorang yang arsitek. Saat itu menurut Tasya Omnya tengah membuat maket sebuah bangunan, dari sanalah keinginan dan inspirasi Tasya untuk melakukan jadi arsitek muncul.

“Sejak saat itu saya selalu menyebut cita-cita saya ingin menjadi arsitek,” ungkap dara cantik asal Purwodadi, saat dihubungi metrosemarang.com, Selasa (13/12) pagi.

Tetapi langkah dara kelahiran 29 Oktober 1991 silam ini tidaklah mudah. Sejak mulai kuliah ia mengaku kesulitan mengatur waktunya hingga kegiatan di luar kampus praktis berkurang. Bahkan hobi berenangnya pun harus dinomorduakan.

Sebagai mahasiswa arsitektur deadline tugas matakuliah Studio, Perencanaan teknologi dan Sistem Bangunan yang selalu ada setiap semester dari semester 1 sampai 7 cukup menguras waktunya.

“Dulu sempet ngajar renang juga, tapi sejak kuliah nggak bisa lagi karena harus ngejar deadline kuliah yang super banget lemburannya,” imbuhnya.

Sejauh ini sudah ada tujuh maket yang dirancang Tasya baik kelompok atau pun mandiri. Mulai dari hunian hingga mall dan saat ini ia tengah berusaha menyelesaikan maket kawasan sebagai tugas di semester VII.

Dari semua maket yang pernah di buatnya, Tasya mengaku cenderung lebih menyukai membangun rumah hunian untuk keluarga dari pada bangunan bertingkat.

Kecenderungannya pada rumah hunian ini terinspirasi dari Fallingwater karya legendaris seorang arsitek besar asal Amerika, Frank Lyod Wright. Bangunan rumah hunian itu menurut Tasya sangat menginspirasi sebagai hunian nyaman bagi keluarga.

Ia pun berharap dapat membangun hunian yang dapat membawa unsur alam. “Fallen Water itu rumah hunian yang didesain menyatu dengan alam, dan aku juga orang yang memang menyukai view alam gitu,” beber Tasya.

Saat ini Tasya masih fokus menyelesaikan kuliahnya dan menyiapkan skripsinya tentang arsitektur yaitu Proyek Akhir Arsitektur (PAA). Meski mengaku berat menjalani kehidupan. Mahasiswa arsitek namun Tasya berusaha menikmati kesibukannya. Sedangkan hobinya berenang masih dapat ia salurkan di akhir pekan.

“Saat ini fokus kuliah yang lain dinomorduakan dulu, biar cepet lulus dan bisa jadi arsitek,” pungkas Tasya sembari tersenyum. (vit)