Home > METRO BERITA > METRO SPORT > Awas, Ada Aroma Semarang di PSGC

Awas, Ada Aroma Semarang di PSGC

image
Dedean Surdani (kiri) harus melawan bekas klubnya di fase 8 besar. Foto Metrosemarang/dok persib

SEMARANG – PSGC Ciamis menjadi kontestan terakhir Grup N babak 8 besar Divisi Utama dan bakal bersaing dengan PSIS, Persiwa dan PSS Sleman. PSIS tak bisa meremehkan Laskar Galuh, karena skuad besutan Hari Rafni Kotari ini lumayan kental beraroma Semarang, dengan empat amunisi produk Jatidiri. Siapa saja mereka?

PSGC memastikan satu tiket 8 besar setelah di laga pamungkas menghempaskan PSPS Pekanbaru 3-2, Minggu (28/9) sore tadi. Hasil ini menempatkan Emile Linkers dkk sebagai runner up Grup K di bawah Persis Solo.

Dengan demikian, PSGC dipastikan menjadi pesaing PSIS di fase 8 besar nanti. Sesuai jadwal yang sudah dirilis PT Liga, duel pertama bakal digelar di Ciamis pada 12 Oktober mendatang. Selanjutnya, Fauzan Fajri dkk gantian menjamu PSGC di Jatidiri, enam hari kemudian.

Bentrok PSGC dan PSIS ini bisa jadi akan menjadi pertandingan yang panas dan menguras emosi. Tensi tinggi, itu sudah pasti, mengingat keduanya sama-sama bersaing mengamankan poin menuju 4 besar. Tapi, bagi empat penggawa Laskar Galuh ini, pertemuan dengan PSIS bakal membangkitkan kenangan lama sebagai mantan penghuni Jatidiri.

Ya, Emile Linkers, Morris Power, Eko Prasetyo dan Dedean Surdani adalah para penggawa PSGC yang juga pernah membela panji Mahesa Jenar. Nama pertama merupakan pemain tersingkat yang pernah bermukim di Semarang. Linkers hanya setengah musim berseragam PSIS. Bergabung di musim 2013, penyerang berpaspor Belanda ini gagal berkembang bersama Mahesa Jenar dan akhirnya digantikan Addison Alves di pertengahan kompetisi.

Sempat berlabuh di Persepam, eks PSIM Yogyakarta itu kembali menemukan ketajamannya sejak dipinang PSGC, awal musim ini. Total 12 gol dikemas Linkers, termasuk satu gol ke gawang PSPS yang memastikan Laskar Galuh melaju ke 8 besar.

Morris Power, nama ini cukup akrab di telinga suporter Semarang. Datang bersama Linkers, Morris punya masa tinggal lebih lama dan turut berperan membawa PSIS melangkah ke babak 12 besar Divisi Utama musim lalu. Stopper Liberia ini sebenarnya sempat nyaris kembali berkostum PSIS, sebelum akhirnya memilih PSGC.

Sedangkan dua nama lainnya, Eko Prasetyo dan Dedean Surdani merupakan produk asli Kota Lumpia. Eko Prasetyo sempat digadang-gadang bakal menjadi bek masa depan Mahesa Jenar. Mulai bergabung di musim 2004, Eko yang kala itu masih berusia 19, kalah bersaing dengan bek-bek senior macam Foffe Camara, Bonggo Pribadi dan Eko Purjianto.

Pemain kelahiran 22 Agustus 1985 itu juga kerap diganggu cedera, sehingga karirnya bersama PSIS tak bisa berkembang. Eko juga sempat menjadi bagian pasukan biru-biru saat menjadi runner up Liga Indonesia 2006.

Setali tiga uang, nasib Dedean Surdani tak beda jauh dengan Eko. Bahkan, Dedean merupakan salah satu produk generasi emas PSIS junior bersama Denny Rumba, Yusuf Sutan Mudo, Ahmad Yaeni dan Achmad Taufik. Stopper kelahiran 17 Januari 1985 ini turut mengantar the Young PSIS menjadi runner up liga remaja (Piala Suratin) dan sempat bergabung dengan timnas U-20.

Sayang, Dedean terlahir di saat yang kurang tepat. Dia gagal menembus skuad inti yang dihuni bek-bek senior. Dedean pun akhirnya harus angkat kaki dari Semarang dan bermain di beberapa tim Jawa Tengah, termasuk PSCS Cilacap.

Menarik ditunggu, bagaimana sambutan suporter Semarang terhadap empat pemain yang dulu pernah mereka elu-elukan di Jatidiri. (*)

1 Komentar

  1. Ada yg slah kta kta diatas..12 september udah terlwat..wkkk