Home > METRO BERITA > Awas, Elpiji Oplosan Beredar di Ngaliyan

Awas, Elpiji Oplosan Beredar di Ngaliyan

Dua pengoplos elpiji yang diamankan di Mapolrestabes Semarang. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya
Dua pengoplos elpiji yang diamankan di Mapolrestabes Semarang. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

SEMARANG – Satuan Reskrim Polrestabes Semarang membongkar praktik pengoplosan isi tabung elpiji di kawasan Kalipancur, Ngaliyan. Pelaku memindahkan isi tabung gas bersubsidi ukuran 3 kg (elpiji melon) ke dalam tabung ukuran 50 kg. Omzet yang dihasilkan juga cukup lumayan, berkisar Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta per hari.

Dalam kasus ini, polisi mengamnkan dua warga Kalipancur, Agung Setiawan dan Rozak Helmi Nugroho. Keduanya mengaku mengedarkan tabung 50 kg tersebut ke rumah makan di sekitar Ngaliyan. “Sudah ada yang jadi pelanggan tetap, biasanya rumah makan,” kata Agung saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Selasa (10/2).

Mereka biasa memindah isi tabung dengan cara disuntik. Menurut Agung, ia bisa menjual hingga tiga tabung ukuran 50 kg oplosan dengan harga Rp 300 ribu per tabung. Namun sayang aksi keduanya harus terhenti setelah aparat Satreskrim Polrestabes Semarang berhasil membongkar praktik curang keduanya.

Selain Agung dan Rozak, polisi juga mengamankan tiga orang lainnya yang menggunakan modus serupa dalam menjual tabung gas. Ketiganya yaitu, Istianah, warga Gunungpati, Agus sutarto (29) dan Supriyanto (30), Bangetayu, Genuk. Bedanya, mereka memindahkan isi tabung melon ke dalam tabung isi 12 kilogram.

Sementara, Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono, mengatakan, dalam satu minggu terakhir, pihaknya menggerebek empat lokasi berbeda  yaitu Kalipancur, Gunungpati dan dua tempat di Genuk yang terbukti berbuat curang memindahkan isi tabung melon ke dalam tabung berukuran yang lebih besar.

“Mereka menyedot isi tabung melon lalu dipindahkan ke dalam tabung besar seperti 12 kilogram dan 50 kilogram. Keuntungan yang didapat jauh lebih besar. Dari subsidi ke non subsidi,” kata Djihartono.

Pelaku dijerat pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, Undang Undang nomor 2 tahun 1998 tentang Metrologi Legal, dan Undang-Undang nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan. (yas)