Home > METRO BERITA > Awas, Keris KW Merajalela di Pasaran!

Awas, Keris KW Merajalela di Pasaran!

image
Keris Dapur Tilamsari, Pamor Kupu Tarung/zaman kerajaan Majapahit (foto: Metro Semarang/Ilyas Aditya)

SEMARANG – Bagi anda pecinta Keris, tampaknya mulai sekarang harus lebih berhati-hati dalam memilih dan membeli pusaka warisan budaya asli Indonesia tersebut. Pasalnya sekarang ini banyak ditemukan oknum-oknum nakal yang nekad merekayasa Keris keluaran baru agar terlihat lebih tua untuk meraup untung lebih.

Sebagaimana diketahui, semakin tua umur sebuah Keris, maka otomatis akan berbanding lurus juga dengan tingginya harga jual Keris tersebut. “Sekarang banyak orang-orang yang jahat, hati-hati dalam memilih Keris,” tutur Suyono Madakaripura (50), salah seorang pecinta Keris asal Semarang.

Menurut warga Tegal Sari Semarang tersebut, jika Keris keluaran baru atau dibuat di masa yang sudah modern, tingkat keantikannya tidak ada, oleh karena itu, jika ketahuan, harganya pasti lebih murah dibandingkan Keris asli peninggalan dari masa lampau.

Cara membedakannya pun tergolong cukup sulit, apalagi bagi pecinta Keris pemula, butuh insting khusus dalam membedakan Keris KW dengan yang asli. “Cara mudah membedakannya, kalau yang lama, jika dilihat dari tepian Keris, akan terlihat gradasi warna dari terang ke gelap. Keris lama juga terasa lebih ringan ketimbang keluaran terbaru,” terang Suyono seraya menunjukan keris miliknya.

Apalagi, lanjut dia, cara membuat keris agar tampak tua pun tergolong mudah. Dengan direndam di larutan kimia, atau larutan belerang yang dicampur garam, dalam sekejap Keris akan terlihat lebih tua dengan kikisan besi yang tampak alami.

Di sisi harga, harga keris KW pun dipatok sama dengan harga yang asli, yakni di kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Jelas hal tersebut menambah bingung calon pembeli saat sedang memilah-milah Keris.

Keris merupakan benda warisan budaya yang patut untuk dilestarikan. Untuk itu seyogyanya jangan sampai perbuatan jahat yang dilakukan oknum-oknum nakal tersebut mencemari nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah Keris. “Tanggung jawab kita semua melestarikan warisan budaya, untuk itu mari bersama-sama merawat dan menjauhkannya dari hal-hal nergatif,” tandas Suyono. (Yas)