Home > METRO BERITA > Di Bandarharjo Air Mahal, Berak pun Susah

Di Bandarharjo Air Mahal, Berak pun Susah

MCK Budi Sehat menjadi salah satu solusi bagi warga Bandarharjo untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi
MCK Budi Sehat menjadi salah satu solusi bagi warga Bandarharjo untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Di sini kalau berak harus mengantre bersama tetangga. Kalau antrean panjang, ya harus tahan. Di sini air bersih mahal, harus langganan dari sumur tetangga yang punya. Kalau tidak, ya harus beli air jerigen yang lebih mahal.

HAMPIR tengah hari, Suroto (50 tahun) memarkir sepeda motornya di depan WC Umum Budi Sehat. Pagi, ia belum sempat buang air besar karena harus segera bekerja di salah satu gudang Kawasan Bandarharjo. Lagipula saat pagi biasanya  ada antrean di WC umum itu. Kalau sudah siang, antrean tidak ada. Artinya bisa lega memakai salah satu biliknya.

Letaknya lumayan jauh dari rumah Suroto di RT 03, RW 06 Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara. WC Umum Budi Sehat ada di RW 05. Memiliki tujuh bilik, keran air di luar bilik, serta tempat terbuka yang agak longgar di muka bilik.

Tak hanya berfungsi sebagai kakus bersama, namun juga untuk mandi dan tempat mencuci. Setiap hari, sekurangnya delapan puluh orang memanfaatkan WC Umum Budi Sehat. Tentu tidak gratis. Setiap pengguna membayar seribu rupiah sampai dua ribu rupiah tergantung aktifitasnya di WC Umum Budi Sehat.

WC itu merupakan bantuan dari pemerintah. Mengingat di kawasan tersebut minim jamban keluarga di rumah. Sebagian karena tak punya tempat untuk membuat jamban, sebagian lagi karena jamban rusak.

“Di rumah saya sebetulnya ada jamban, tapi tidak bisa dipakai lagi. Ada air nyumber (muncul – red) dari bawah. Keluar terus airnya,” kata Suroto. Alhasil, ia dan seluruh anggota keluarganya menggunakan jamban umum jika ingin buang hajat.

Jumlah penduduk di Kelurahan Bandarharjo saat ini mencapai 20.222 jiwa dalam 4.434 kartu keluarga. WC Umum Budi Sehat tak dapat menampung aktifitas penduduk sebanyak itu. Warga secara swadaya membangun jamban umum serupa. Sekarang sudah ada 11 titik jamban umum di Kelurahan Bandarharjo yang dikelola bersama.

Kepala Seksi Pembangunan Kelurahan  Bandarharjo, M Rifai Sutikno mengatakan ada 3.644 rumah yang terdata di kantor kelurahan. Kebanyakan tidak memiliki jamban yang bisa dipakai. Tidak ada data pasti terkait jumlah jamban keluarga yang masih berfungsi. Oleh sebab kerusakan jamban terus bertambah, pun jika ada yang membuat baru akan segera disusul kerusakan.

“Karena di sini kan tanahnya ambles terus. Rob naik, merusak rumah termasuk jamban,” kata Sutikno. Berdasar data Analisis Geologi Lingkungan Untuk Penyusunan Tata Ruang di Kota Semarang, amblesan atau penurunan muka tanah di Kampung Bandarharjo mencapai tujuh hingga delapan sentimeter per tahun.

Tidak hanya urusan berak yang susah di Bandarharjo. Warga pun harus mengeluarkan biaya relatif mahal untuk mencukupi kebutuhan air bersih. “Kalau mandi, saya mandi di rumah. Mencuci juga di rumah. Airnya langganan dari sumur artetis punya Bu Wiwik,” ujar Suroto.

Beberapa warga memiliki sumur artetis, airnya dijual kepada warga lain menggunakan instalasi pipa lengkap dengan meteran air. Tarifnya tergantung jarak rumah warga pelanggan dengan sumur. Tidak semua warga bisa memiliki sumur sendiri. Selain karena biaya pembuatan sumur yang mahal, izin pembuatan juga tak mudah.

Kesulitan izin itu lantaran kawasan Bandarharjo termasuk zona kritis. Pembuatan lebih banyak lubang untuk sumur akan menyumbang peranan dalam penurunan muka tanah. Jika sudah ada sumur, pengambilan airnya pun sebetulnya dalam debit yang terbatas.

Berdasarkan rekomendasi teknis Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Tengah, pengambilan air di zona kritis hanya boleh untuk air minum dan rumah tangga dengan debit maksimal seratus meter kubik per hari, pada kedalaman lubang kurang dari 30 meter. Sehingga, yang bisa dilakukan oleh warga seperti Suroto adalah membeli air sumur artetis.

Meskipun bagi dia, air dari sumur artetis langganannya lumayan mahal. Suroto tak menengarai jumlah pemakaian air dari sumur artetis setiap bulan. Tapi ia hafal, setiap dua minggu ia merogoh kocek sedikitnya Rp 60 ribu.

Di samping mahal, kualitas air juga kurang bagus. “Kadang-kadang keruh. Mungkin karena pusat sana tidak dibersihkan,” imbuh Suroto. Karena keruh, ia tak memakai air dari sumur artetis untuk memasak dan minum. Artinya Suroto harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli air jerigen dari penjual keliling. Harganya Rp 1.500  per jerigen.

Mau bagaimana lagi? Sebab berharap bisa menggunakan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga mustahil. Kendati Bandarharjo masuk dalam cakupan wilayah layanan PDAM Tirta Moedal Kota Semarang. Ada berbagai kendala yang membuat warga kesulitan untuk berlangganan. “Untuk pasang baru, saya ditawari membayar dua juta (rupiah – red). Orang seperti saya ya tidak mampu,” kata Suroto.

Taufik Sutikno sebagai pejabat kelurahan menangkap persoalan lain. Warga enggan untuk kembali berlangganan PDAM. Sebetulnya dulu tahun 2000 sudah pernah ada pipa PDAM masuk. Menurut Sutikno, dahulu sekurangnya 30 persen dari rumah warga sudah terpasang jaringan PDAM. Namun kini, warga yang kembali berlangganan tidak sampai 10 persen.

“Dulu warga ya langganan. Tapi karena tanah ambles, jaringan pipa rusak, ikut ambles. Rumah-rumah ditinggikan, pipa sudah terurug di bawah, air PDAM tidak mengalir lagi. Lalu pipa PDAM kembali masuk Bandarharjo sekitar dua-tiga tahunan lalu.,” jelas Sutikno.

Warga yang kurang berminat untuk kembali berlangganan PDAM karena kendala tagihan sebelumnya. “Ketika akan pasang baru, ternyata alamat rumah masih tercatat sebagai pelanggan lama. Maka harus melunasi tagihan lama yang banyak. Padahal dulu air sudah tidak digunakan karena pipanya sudah ambles,” ungkap Sutikno.

Saat ini, warga Bandarharjo seperti Suroto berharap ada solusi. Diantaranya pernah terlontar dalam pertemuan warga setingkat RW. Yakni berlangganan air PDAM secara kolektif. “Harapannya ya pemerintah memperhatikan orang-orang seperti kami,” pungkasnya. Atau mungkin ada solusi lain, sehingga urusan mendasar seperti berak dan air bersih tak susah lagi. (eka hendriana)