Home > Berita Pilihan > Bantu Pembangunan Gereja, Didik Nini Thowok ‘Ngamen’ di Sri Ratu

Bantu Pembangunan Gereja, Didik Nini Thowok ‘Ngamen’ di Sri Ratu

METROSEMARANG.COM – Gemuruh tepuk tangan penonton berulang kali menggema saat Didik Nini Thowok tampil di Convention Hall Sri Ratu, Jalan Pemuda Semarang, Sabtu (3/6).

Penampilan Didik Nini Thowok di Sri Ratu Semarang, Sabtu (3/6). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Pria yang terlahir dengan nama Kwee Tjoen An itu menampilkan Tarian Persembahan dengan menggabungkan teknik tarian topeng, kecak Bali dan Jawa. Penampilan Didik jadi hiburan tersendiri bagi umat Katolik yang menghadiri acara Gema Nusantara Orkestra di Sri Ratu.

Salah seorang panitia acara, Damianus Febrianto mengatakan, Didik sengaja manggung di Sri Ratu demi menggalang dana untuk membantu pembangunan Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus di Klepu, Sleman.

“Mas Didik rela dibayar murah buat meringankan beban kami yang sedang menggalang dana pembangunan Gereja Santo Petrus dan Paulus,” kata Febri, sapaan akrabnya.

Saat menari di hadapan ratusan umat Katolik, kata Febri, dosen ASTI Yogyakarta itu bahkan sengaja memberikan diskon honornya jadi Rp 10 Juta. Padahal, saat tampil di depan panggung umum lainnya, penari nyentrik tersebut biasanya memasang tarif minimal Rp 30 Juta.

“Dia sendiri yang sukarela memangkas honornya. Kalau biasanya pasang tarif Rp 30 Juta. Di sini dia cuma dibayar Rp 10 Juta,” akunya.

Alhasil, tarian nyentrik khas Didik Nini Thowok tetap memukau penonton. Ia tak canggung berganti kostum di depan pemusik orkestra yang mengiringinya. Selain Didik Nini Thowok, panitia juga mendapat suguhan istimewa dari penyanyi keroncong Endah Laras dan Iin Indrayanti.

Kedua penampil diatas juga rela dibayar murah lantaran prihatin dengan kesusahan yang sedang dialami jemaat Gereja Santo Petrus dan Paulus. “Kami semua beruntung bisa mengundang mereka. Walau dibayar murah, tetapi penampilannya tetap maksimal,” kata Febri.

Sejak diguncang gempa Bumi pada 2006 silam, proses renovasi bangunan Gereja Santo Paulus memang tak kunjung tuntas. Menurutnya Gereja Santo Paulus yang berusia 87 tahun itu rusak berat. Pembangunan gereja baru dimulai 2015 dan saat memasuki tahun ketiga pembangunan fisiknya sudah 80 persen.

Meski begitu, jemaat gereja yang berjumlah 9.500 orang merasa kesulitan untuk membiayai pembangunan gereja tersebut. “Padahal kita sudah patungan tiap minggu. Jemaat yang bekerja sebagai pegawai negeri urunan Rp 100 ribu, yang jadi pedagang ikut urunan Rp 70 ribu, PKL juga urunan Rp 40 ribu dan petani ikut membantu Rp 10 ribu,” terangnya.

Sampai sekarang dana patungan yang terkumpul mencapai Rp 2,7 Miliar. Jumlahnya masih kurang banyak dari total kebutuhan awal sebesar Rp 4,5 Miliar. “Kami terpaksa berutang sama Keuskupan Agung Semarang Rp 700 Juta,” cetusnya.

Karena itulah, ia berharap dengan adanya pagelaran Gema Nusantara Orkestra mampu menghimpun dana untuk membantu pembangunan gerejanya. “Ya mudah-mudahan bisa mencukupi, Mas,” tukasnya. (far)