Banyak Tiang Beton, Trotoar di Semarang Tak Ramah Difabel

METROSEMARANG.COM – Pembangunan jalur pedestrian di sepanjang ruas jalan Kota Semarang menuai kontroversi. Pasalnya, sejumlah penyandang disabilitas menganggap fasilitas trotoar yang ada selama ini tidak memadai.

Seorang pejalan kaki melintas di trotoar Jalan Pierre Tendean, Selasa (13/3). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Bahkan, menurut Agung Setyabudi, Anggota Komunitas Sahabat Difabel Semarang, proyek jalur pedestrian cenderung dibangun sembarangan oleh pemerintah kota setempat.

Di tiap jalur pedestrian, ia mengatakan banyak dibangun tiang beton yang menyulitkan penyandang disabilitas untuk beraktivitas.

“Saya melihat banyak trotoar yang fasilitasnya kurang memadai, malahan terkesan dibuat serampangan, terutama pada tiang-tiang beton yang menyulitkan kaum disabilitas maupun tidak ada ram untuk mempermudah teman-teman yang memakai kursi roda,” kata Agung, Selasa (13/3).

Agung mengatakan sudah pernah melayangkan protes kepada dinas terkait ihwal sarana dan prasarana jalur pedestrian yang kurang layak tersebut.

Dalam beberapa pertemuan dengan pejabat pemkot, Agung sering menyampaikan berbagai keluhan berkaitan dengan jalur pedestrian yang ramah difabel.

“Sudah pernah ketemu dalam berbagai acara, tetapi saran-saran yang kami sampaikan selalu diabaikan,” tuturnya.

Ia pun meminta kepada dinas terkait agar mau menyelesaikan masalah tersebut. Sebab, bagi Agung, seorang difabel tidak perlu dikasihani. Melainkan harus diberi fasilitas yang layak untuk beraktivitas layaknya orang normal.

Agung bilang rekan-rekannya sesama difabel juga kesulitan beraktivitas di jalur pedestrian saat sedang berlibur di kawasan Kota Lama.

“Kami juga punya hak menikmati Kota Lama. Tapi begitu sampai di sana, malah tidak bisa leluasa lewat di trotoarnya. Banyak tiang beton yang menghalangi kami,” sergahnya.

Pantauan di ruas Jalan Piere Tendean, Semarang Tengah  terlihat para pejalan kaki harus menghindari tiang-tiang beton saat lewat di pedestrian. Tampak pula pedestrian justru dipakai berdagang oleh beberapa PKL.

“Ini sudah dibangun lebih dari sebulan terakhir. Saya sendiri sudah lama jualan di sini,” kata Sumijah, seorang PKL di pedestrian Jalan Piere Tendean. (far)

You might also like

Comments are closed.