Home > METRO BERITA > Begini Cara Santri Ponpes Qur’anil Aziziyah Maknai Kemerdekaan

Begini Cara Santri Ponpes Qur’anil Aziziyah Maknai Kemerdekaan

METROSEMARANG.COM – Upacara memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya dilakukan sekolah formal maupun instansi pemerintahan.┬áBertepatan tanggal 17 Agustus, santri-santri Pondok Pesantren Qur’anil Aziziyah Beringin Ngaliyan begitu khidmat melaksanakan upacara tujuhbelasan.

Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

Memakai pakaian khas anak pesantren, santri laki-laki memakai baju muslim, sarung dan kopyah. Sedang santri perempuan berseragam dan memakai kerudung merah.

Tak seperti peserta upacara dari kalangan formal, kaki peserta upacara pun tak ada yang memakai sepatu melainkan beralaskan sandal seadanya. Suasana khidmat sangat terasa saat mengheningkan cipta dengan membaca surat al fatihah untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur dan para pendahulu.

Panitia pelaksana upacara Zainul mengatakan, upacara peringatan hari kemerdekaan tidak hanya diperuntukan bagi para pengenyam bangku pendidikan formal saja. Namun, lanjut Zainul, santri juga berhak merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia dengan ikut menyelenggarakan upacara.

“Santri juga punya rasa jiwa nasionalisme, mengingat pasukan hizbullah yang berjuang melawan penjajah juga berasal dari kalangan santri,” kata Zainul, Rabu (17/8).

Untuk merekatkan rasa persaudaraan, rangkaian acara perlombaan telah siap dimainkan usai upacara selesai. Menurutnya, momen tujuhbelasan harus diperingati dengan kegiatan yang meriah. “Momentum seperti ini sangat cocok digunakan untuk merekatkan persaudaraan antar santri,” katanya.

Sementara itu, pembina upacara Rifki mengungkapkan, momen peringatan upacara kemerdekaan bagi para santri adalah sebagai momen untuk muhasabah diri masing-masing. Mengingat kemerdekaan adalah anugrah dari Sang Pencipta, maka yang disebut merdeka adalah merdeka untuk menyembah.

“Merdeka untuk menyembah tanpa perbudakan setan dan hawa nafsu, dan tentunya merdeka untuk mengaji,” tutur Rifki. (din)