Home > METRO BERITA > Berkas Korupsi BJB Segera Dilimpahkan Pengadilan

Berkas Korupsi BJB Segera Dilimpahkan Pengadilan

kejaksaan tinggi jateng

SEMARANG – Berkas perkara dugaan korupsi Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB) Cabang Semarang sudah rampung. Tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah segera melimpahkan berkas tersebut ke pengadilan.

“Sudah tahap dua. Selesai penuntutannya,” kata Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jateng, Masyhudi, di kantornya, Jum’at (29/8). Lanjutnya, pelimpahan itu ditargetkan minggu depan. “Sebentar lagi kita lempar (limpahkan, red) ke Pengadilan. Minggu depan mungkin,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua tersangka dugaan korupsi Bank Jabar Banten (BJB) cabang Semarang sudah ditahan penyidik Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Yakni mantan Kepala Cabang (Kacab) bank pembangunan daerah Jawa Barat dan Banten (BJB) Semarang, Hadi Mulyawan (HM). Hadi ditetapkan tersangka sesuai surat perintah penyidikan nomor 11-Print/O.3/Fd.1-03/2014.

Dan satu lagi, Direktur PT Indonesia Antique (IA), Wahyu Hanggono, SE (38), ditahan Senin (14/4). Pria warga Jalan Semeru IV nomor 23 RT 02 RW 06, Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, Surakarta, ditahan usai diperiksa oleh penyidik Kejati Jateng selama enam jam.

Wahyu diperiksa mulai sekitar pukul 10.00. Enam jam kemudian, sekitar pukul 16.00, tersangka langsung dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas IA Kedungpane, Semarang. Kejati Jateng menetapkan tersangka Wahyu berdasar surat Kepala Kejati Jateng nomor 12-Print/O.3/Fd.1-03/2014.

Baik Hadi dan Wahyu dijerat dugaan perkara tindak pidana korupsi pemberian kredit Bank Jabar Banten (BJB) cabang Semarang Kepada PT IA. Modus kasus ini adalah memanipulasi proses kredit kepada perusahaan. “Kita limpahkan keduanya sekalian. Saksi-saksinya sama. Untuk mempermudah proses hukumnya,” terangnya.

Kejati Jateng awalnya mendapat laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Semarang. Dalam laporan tersebut, sedikitnya 33 perusahaan mendapatkan kredit dari BJB. Total dana mencapai Rp 24 miliar.

Diduga prosedur pengajuan kreditnya menyimpang. Nilai jaminan yang diberikan berbeda dari kenyataannya. Selain itu, nama debitur diduga hanya karyawan perusahaan-perusahaan tersebut. Debitur mengajukan kredit untuk pengembangan usaha. Ternyata untuk membayar utang yang telah ada sebelumnya. Ada perusahaan besar yang memiliki perusahaan kecil sebagai plasma. Perusahaan plasma ini mengajukan kredit memakai nama karyawannya. (MS-12)