Home > METRO BERITA > GADGET & TEKNO > METRO TALK > Berkesenian di Rumah Budaya yang Terlupakan

Berkesenian di Rumah Budaya yang Terlupakan

Gedung Kesenian Jawa Tengah, tempat penyelenggaraan Pure Metal Fest VI, Sabtu (6/6). Foto: @SBS_MetalScene for metrosemarang.com
Gedung Kesenian Jawa Tengah, tempat penyelenggaraan Pure Metal Fest VI, Sabtu (6/6). Foto: metrosemarang.com/dok @SBS_MetalScene

Di manakah tempat terbaik untuk berkesenian di Kota Semarang. Sebuah pertanyaan sederhana sebetulnya. Tapi pelaku seni di Semarang tak pernah satu suara menjawabnya.

Memang, orang lebih banyak memilih berkesenian di ruang-ruang yang sewajarnya untuk panggung kesenian. Sebut saja Taman Budaya Raden Saleh, Auditorium RRI Semarang, Auditorium Imam Bardjo Undip, Gedung Sobokartti, dan aula atau ruang kampus yang besar.

Sebagian memilih pentas di ruang publik, bahkan rumah dan kos-kosan. Sebut saja Pertunjukan Kesenian Rakyat Jawa Tengah (PKRJT) di Taman KB, PasArt Tiban di ORArt ORET ArtSpace, Gerobak Art Kos Hysteria, Pameran Moro Seneng di CB31 Artspace, Surau Budaya edisi Titik Balik di Bild Photospot, Rebo Legen di parkiran TBRS, atau performance art HorniKULTura di jalan raya, Tugumuda, dan Mal Ciputra.

Dan dalam dua hari ini, Semarang disuguhi dua event menarik dari segi ruang. Pure Metal Fest VI di Gedung Kesenian Jawa Tengah (GKJT) pada Sabtu 6 Juni dan Loenpia Jazz 2015 di Puri Maerakaca. Apa yang sama dari keduanya? Ya, penyelenggara dua event ini, Scattered Brains Society (SBS) dan Komunitas Jazz Ngisoringin sama-sama mencoba berkesenian di rumah budaya yang terlupakan.

Pada masa pembangunannya, GKJT digadang-gadang sebagai rumahnya para seniman dan budayawan Semarang. Besarnya harapan itu tergambar dari anggaran pembangunan yang mencapai Rp 7 miliar dari APBD Pemprov Jateng 2003-2005. Ada tiga ruang di sana. Gedung utama untuk pertunjukan, gedung pameran, dan teater arena. Faslitas pun terbilang lengkap. Dari lighting, sound system, genset, air, toilet, dan musholla.

Sayangnya, sejak diresmikan pada 2004 oleh Gubernur Mardiyanto, GKJT tak pernah sanggup mencapai kejayaan yang diidamkan. Dewan Kesenian Jawa Tengah yang diserahi tugas mengelola tak sanggup menjalankan amanat. Sebab tugas itu tidak disertai kejelasan siapa yang bertanggung jawab pada perawatan dan pemeliharaan. Di sisi lain, ketika diresmikan pada 2004, beberapa fasilitas sebenarnya belum selesai dibangun. Di antaranya wisma seni, gedung lembaga pendidikan seni, dan taman untuk playground.

DKJT pun kesulitan memaksimalkan komplek itu karena sejumlah masalah. Akses transportasi yang sulit, letak yang jauh dari pusat kota, menjadi problem utama. Pelaku seni malas berpentas di sana karena terancam tempat itu sulit dijangkau penonton.

Setelah DKJT menyerah, pada medio 2011-2012 GKJT dikelola Dinbudpar Jateng. Ditinggalkan penghuninya, komplek di belakang Taman Maerakaca itu malah dibiarkan kosong, kotor dan rusak. Sejumlah inventaris pun hilang dicuri orang, seperti kabel genset, pompa air, seperangkat lighting, dan sound.

Akhir 2012, Dinbudpar mengalokasikan anggaran Rp 700 juta untuk renovasi gedung teater tertutup. Di antaranya perbaikan lantai dan panggung, pengecatan, dan penyambungan air serta listrik. Meski demikian, gedung teater masih jarang sekali berfungsi. Denyut aktivitas kesenian hanya sekali-sekali saja hidup. Padahal, Dinbudar menjamin penggunaan gedung ini oleh kelompok apapun gratis atau dipungut biaya.

Area seluas dua hektare itu hanya sekali-sekali saja digunakan untuk pentas musik, pameran, dan workshop beberapa kelompok. Rata-rata malas kembali menggunakan karena banyaknya keterbatasan. Bagi panitia, beracara di GKJT ternyata merepotkan dan penonton pun sedikit yang datang.

Imam Putre, Panitia Pure Metal Fest VI mengakui hal ini. Satu-satunya yang asyik di GKJT adalah tata cahaya yang terbilang bagus dan ruangan ber-AC. “Tapi sound system dan genset masih nyewa sendiri, tidak ada warung jadi penonton susah nyari makan. Aksesnya juga susah, penonton malas ke sini,” paparnya.

Harus diakui, pembenahan di GKJT masih setengah hati. Gedung pameran masih dibiarkan mangkrak tak terurus dan jalan masuk dipenuhi tanaman liar yang menerbitkan kesan kumuh. “Kalau dibenahi dengan bagus, program acara rutin, disediakan warung atau kafe dan transportasi masuk sini, saya yakin GKJT akan ramai,” tambah gitaris band Putrefaction itu.

Puri Maerakoca pada awalnya dibanjiri pengunjung sejak diresmikan pada 1993. Di kompleks seluas 23 hektare ini, terdapat 35 anjungan seluruh kabupaten/kota di Jateng. Masing-masing anjungan menjadi ruang display barang kerajinan dan kuliner khas daerah.

Ada juga miniatur peninggalan sejarah dan obyek wisata yang populer di Jawa Tengah. Seperti Candi Borobudur, Benteng Pendhem, Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Demak dan lainnya. Selain itu, Puri Maerakaca juga dilengkapi sarana rekreasi seperti becak air, perahu unik yang atapnya berbentuk daun, area permainan anak hingga outbond.

Namun dalam perkembangannya, puri kebanggaan Jateng itu kini telantar. Mayoritas anjungan tak terurus, bahkan rusak, karena disetopnya dana perawatan dari pemerintah kabupaten/kota. Bahkan ada anjungan yang disewakan untuk kos-kosan. Kondisi yang memprihatinkan ini membuat wisatawan enggan datang.

PT PRPP yang mengelola Puri Maerakaca juga miskin inovasi. Ditambah berbagai masalah yang menimpa kawasan PRPP, seperti sengketa sertifikat tanah dengan PT Indo Perkasa Usahatama, menjadikan pengembangan Puri Maerakaca terhambat.

Melihat kondisi ini, ikhtiar Komunitas Jazz Ngisoringin pantas mendapat kredit tersendiri. Sebab harus diakui, tidak mudah menggelar keriaan di tempat dimana warga Semarang sendiri wegah datang. Apalagi, dengan target penonton sekitar lima ribu seperti Loenpia jazz 2014 di Pecinan, memilih Marekaca bisa dibilang sebuah keputusan nekat.

Bukan kali ini saja sebuah event yang diinisiasi anak-anak muda digelar di Maerakaca. Sekelompok mahasiswa FISIP Undip pernah menggagas acara Plesir Maerakaca pada akhir 2013 lalu.

Seperti Loenpia Jazz, pemilihan lokasi itu dilandasi kesadaran akan minimnya tempat wisata di Semarang. Mereka ingin ikut mempromosikan sekaligus memantik perhatian pemerintah dan warga kota lainnya untuk peduli pada kebudayaan. Sebab bukankah, membiarkan anjungan-anjungan yang merupakan repsentasi budaya daerah itu rusak, sama saja berperan pada lekangnya kebudayaan.

Tapi tentu saja untuk meramaikan GKJT dan Puri Maerakaca tak bisa hanya mengandalkan gairah dan heroisme anak muda. Semangat mereka harus ditangkap segera oleh Pemprov Jateng dan 35 Pemkab/Pemkot untuk merevitalisasi keduanya. Setidaknya, jika tak mampu membuatnya jaya, rumah-rumah budaya itu tak lagi terlupa.(Anton Sudibyo)

 

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link