Home > METRO BERITA > Biaya Produksi Mahal, Rumah Apung Tambaklorok Hanya Berumur 20 Tahun

Biaya Produksi Mahal, Rumah Apung Tambaklorok Hanya Berumur 20 Tahun

METROSEMARANG.COM – Proyek rumah apung di Tambaklorok bakal menjadi percontohan tempat hunian bagi warga yang bermukim di kawasan rawan rob. Pemkot Semarang juga berencana meminta Kementerian PUPR  mengalokasikan anggaran APBD Kota Semarang untuk pembuatan rumah apung secara massal.

Lokasi pembangunan rumah apung di Tambaklorok. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Lokasi pembangunan rumah apung di Tambaklorok. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

Ketua Tim Riset Sistem Modular Wahana Apung dan Penerapan Teknologi Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dimas Hastama Nugraha menyebut biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu rumah apung hunian bisa mencapai Rp 300 juta.

“Untuk rumah diantara Rp 100 juta hingga Rp 300 juta. Jika ada rob, rumah apung ini akan terapung mengikuti debit air,” kata Dimas, Senin (29/8).

Mengacu pada proyek percontohan rumah apung, pondasi rumah berbahan dasar Styrofoam. Teknik itu mengadopsi dari Belanda dengan melibatkan tenaga ahli dari Skotlandia.

Namun, berbeda dengan rumah di daratan, rumah apung hanya bertahan sekitar 20 tahun. “Estimasi kami, rumah apung ini bisa bertahan kurang lebih antara 15 hingga 20 tahun,” katanya.

Sementara itu, salah seorang warga yang tinggal di kawasan Tambaklorok, Eko (28) mengaku senang dengan adanya proyek tersebut. Ia berharap rumah apung bisa menjadi salah satu pilihan terlepas dari rob yang terus menggerus rumah mereka.

“Kalau memang tepat ya harus diperbanyak. Ini kan membantu masyarakat,” ujarnya. (yas)