Home > METRO BERITA > Bosan di Penjara, Napi Anak Berlatih Bikin Miniatur Alat Perang

Bosan di Penjara, Napi Anak Berlatih Bikin Miniatur Alat Perang

METROSEMARANG.COM – Sejumlah narapidana anak-anak di Lapas Klas IA Kedungpane, Mijen Semarang hari ini, Jumat (2/9), mengikuti pelatihan membuat ragam miniatur mainan Alutsista (alat utama sistem pertahanan), untuk mengusir rasa jenuh mereka selama mendekam di balik jeruji besi.

Miniatur tank bikinan napi anak di Lapas Kedungpane. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Miniatur tank bikinan napi anak di Lapas Kedungpane. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Pelatihan keterampilan itu merupakan jadwal rutin yang diberikan aktivis Yayasan Setara yang selama ini mendampingi belasan narapidana anak di dalam lapas.

Ada beberapa narapidana yang langsung bergegas membuat replika pesawat dari limbah daur ulang. Pelatihan yang mereka ikuti itu dimulai pukul 10.00 WIB.

“Untuk hari ini, mereka membuat replika pesawat terbang,” ungkap Koordinator Project Hukum Anak dari Yayasan Setara, Siti Sutinah kepada¬†metrosemarang.com.

Sementara itu, Ika Camelia Direktur Yayasan Setara menyebutkan terdapat 16 narapidana anak di Kedungpane yang kini didampingi oleh pihaknya.

“Usia mereka beragam sampai dalam tahap memasuki masa dewasa. Anak-anak yang ada di lapas kebanyakan menjalani hukuman dua sampai tiga tahun,” kata Ika.

Ia mengaku terus berupaya mendampingi anak-anak yang tersangkut masalah hukum demi menguatkan mental mereka saat meringkuk di sel yang pengap. “Karena perlakuan narapidana anak yang ditahan di Kedungpane dengan lapas anak sangat berbeda. Makanya, kami masuk buat mendampingi mereka,” ujar Ika.

Pendampingan yang diberikan aktivis Setara berupa bimbingan konseling serta peningkatan keterampilan. Konseling diberikan kepada tiap anak agar mereka bisa berkeluhkesah mengenai kehidupannya di penjara. Ia ingin menguatkan hati mereka hingga menghirup udara bebas nanti.

Lebih jauh, Ika bilang saat ini kasus kejahatan yang kerap menjerat anak yakni aksi kekerasan seksual. Mirisnya lagi, kejahatan seksual kian merebak lantaran kurangnya perhatian orangtua terhadap anaknya.

“Kami harus blusukan ke sekolah dasar karena terdapat indikasi rentan kekerasan seksual. Pemicunya, karena pengaruh besar dari media dan sikap orangtua yang membiarkan anak leluasa mengakses handphone dan internet,” paparnya.

Yang lebih parah, menurutnya saat anak bisa melihat adegan ranjang orangtuanya sendiri saat di dalam rumah. “Itu terjadi karena kamar rumah mereka tanpa sekat sehingga hal-hal inilah yang memicu kekerasan seksual pada teman perempuannya,” tandasnya. (far)