Home > METRO BERITA > GADGET & TEKNO > METRO TALK > Bot Berita dan Tantangan Jurnalisme Baru

Bot Berita dan Tantangan Jurnalisme Baru

APAyang terjadi jika robot bisa menuliskan berita? Sudah lama ini terjadi.

Kalau berkaitan dengan data statistik, ini biasa terjadi, misalnya: skor bola, tendangan pemain top, jumlah bangunan rusak dalam bencana, tanggal dan detik kejadian, atau perhitungan indeks harga saham gabungan, dan jumlah pengangguran saat ini.

Ilustrasi
Ilustrasi

Terkait statistik, unsur what, who, where, when, bisa. Terkait unsur “why” dan “how”, belum tentu. Sudah lama, bot memiliki peran dalam menyajikan berita “statistik”.

Menyebut beberapa saja :

+ 29 Januari 2015, seperti diberitakan the Verge, Asia Press menampilkan artikel yang ditulis bot, kode pemrograman.

+ 20 Oktober 2015, seperti diberitakan Wires, Fox menyediakan bot gratisan terkait olah raga, untuk publik.

+ 17 Maret 2014, gempa bumi di Los Angeles dilaporkan bot untuk publik.

+ 11 September 2011, New Yok Times memperkenalkan artikel yang dituliskan bot, ke level yang lebih sophisticated.

+ Tsunami di Jepang, diberitakan bot. Hebatnya, Jepang menyensor foto. Tidak ada wajah luka dan tubuh hancur di liputan Tsunami Jepang.

Anda bisa membuat bot sendiri. Atau membuat koran digital sesuai keyword yang Anda sukai, dan tersaji setiap ada update baru. Aplikasi Webly dan IFTTT bisa melakukannya. Saya suka kurasi content seperti itu. Tidak selalu mengandalkan Google.

Berita membutuhkan sudut pandang, menyingkap BTS (behind the scene). Berita (news) berbeda dengan investigasi. Benar, bot berita memang cerdas.

Bisa melakukan liputan (seringnya, ini berarti straight news atau running news), namun bukan berarti pintar melakukan investigasi. Liputan dan investigasi, jelas beda. Investigasi lebih pada kedalaman, kupas tuntas, menyingkap apa yang ada di balik permukaan, dan antisipatif. Tidak jarang, menghadirkan “fakta” yang menyoal “why” dan “how”.

Reportase dan investigasi, bukan dua hal bertentangan. Reportase bukan antonim dari investigasi. Internet menyajikan informasi berdasarkan algoritma. Saya mencari “berita semarang terbaru” di Google, lalu menekan enter, maka Google akan menjalankan algoritma, kode-kode logis yang telah diprogram untuk memperlakukan input pemakai. Ketika saya sama-sama berasal dari Semarang, maka akan ada daftar “People you may know” di Facebook, yang punya latar belakang yang berdekatan dengan “saya”.

Kalau algorithma bisa beradaptasi (menambahkan, mempertimbangkan) dengan data baru, maka ini disebut kecerdasan. Semakin banyak input data, maka perbendaharaan semakin banyak. Semakin cerdas. Sekali lagi, sejak dulu sebenarnya orang biasa melihat bot bekerja. Anda tidak sedang melihat bot bekerja ketika melihat widget “cuaca hari ini”, karena angka suhu di situ biasanya bekerja berdasarkan siklus dan jadwal.

Sama halnya dengan melihat “ramalan bintang minggu ini”, karena dia bekerja berdasarkan prinsip penyajian data *berdasarkan* siklus dan jadwal. Bot lebih cerdas dari itu. Dia bisa membaca data drone saat mengidentifikasi jumlah korban berdasarkan sensor thermal, menyisipkan data relevan (berdasarkan keyword), mendeteksi sintaksis kalimat, bahkan memberi sentuhan “puitis” pada kalimat. Banyak bot yang bisa menulis puisi.

Secerdas apapun itu, beberapa hal perlu diwaspadai. Pertama, konfirmasi data, *demi* kecerdasan bot dan pembaca. Berita yang bagus harus punya unit konfirmasi data. Salah melakukan dan memproses input, akan fatal jika berita itu menjadi pertimbangan keputusan sensitif.

Satu garis merah yang ditampilkan sensor, mungkin berarti angka kemiskinan.

Berita mengandung keputusan untuk bertindak. Orang bisa mendapatkan informasi keliru, terkait kesehatan, jika hanya mengandalkan hasil pencarian di Google.

Kedua, sentuhan manusia dalam sudut pandang. Berita butuh menyingkap permukaan, menyajikan sudut pandang, tentang “mengapa” dan “bagaimana”.

Bank Dunia punya data berapa hasil panen tembakau di desa tetangga tahun ini, tetapi data itu membutuhkan “peran manusia” dalam menyingkap “mengapa” desa itu menghasilkan tembakau lebih banyak daripada desa lain? atau “bagaimana” kualitas tembakau hasil panen desa itu?

Aspek “why” dan “how” bisa mengajak pembaca menilai. Data, yang bisa diproses bot (ataupun jurnalis) inilah yang bebas diperlakukan. Hanya manusia, yang “secara berkelompok” bisa dimanipulasi informasi, secara berbeda (waktu dan tempat). Harimau dan ular, hanya bisa beradaptasi dan survive, terhadap informasi sederhana. Manusia bisa bertarung hanya karena pemakaian kata dan angka.

Dari masa lalu maupun dari masa depan. Membaca straight news yang di-copy-edit di mana-mana, seperti membaca laporan bot, jika tidak ada pertanyaan tentang “mengapa” dan detail tentang “bagaimana”. Jika ada pesimisme terhadap pemberitaan media online, terkait algorithma bot, sebenarnya ini sebuah tantangan. Media online dengan algorithma terbaik dan sentuhan manusia dalam penulisan berita yang akan menang.

Welcome to the bot world. [d]

Day Milovich,,

Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang dan Rembang.