Home > METRO BERITA > Brigadir Budi Ubah Sisa Kebakaran Mapolda Jateng jadi Wayang Semar

Brigadir Budi Ubah Sisa Kebakaran Mapolda Jateng jadi Wayang Semar

METROSEMARANG.COM – Musibah membawa berkah. Ungkapan tersebut terjadi pada sosok Brigadir Budi Santoso. Ia yang saban hari bertugas di Satuan Pelayanan Masyarakat (Yanma) Polda Jateng, rupa-rupanya jeli melihat peluang usaha tatkala markasnya terbakar hebat pada November 2015 silam.

Wayang Semar dari limbah logam karya Brigadir Budi. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Wayang Semar dari limbah logam karya Brigadir Budi. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Budi, awalnya terkejut menyaksikan bangunan paling belakang di Mapolda luluhlantak dilalap si-jago merah. Saat kejadian, ia sendiri sedang berjaga di pos pintu masuk sisi timur Mapolda.

“Waktu itu, gedung SDM benar-benar habis disambar api. Sampai-sampai semuanya berlarian menyelamatkan diri. Kejadiannya pukul 10.30 WIB pagi,” akunya kepada metrosemarang.com, Kamis (1/9).

Ia saat itu melihat gedung dua lantai dan motor yang terparkir menjadi puing-puing berserakan di markasya. Hampir 70 sepeda motor hangus ditelan bara api.

“Tidak lama setelah itu, ada teman yang menawari saya untuk membeli barang sisa kebakaran. Perkilonya saya beli Rp 10 ribu,” kata pria yang tinggal di Aspol Sendangguwo Tembalang itu.

Ia mengaku nyambi jadi tukang rongsokan di tengah perekonomian keluarganya yang kurang mencukupi. Ia harus menghidupi seorang istri dan dua anak di asrama polisi. “Kebetulan saya lagi butuh dana buat berobat anak saya yang kedua,” terangnya.

Seiring berjalan waktu, lempengan besi tua sisa kebakaran gedung Mapolda itu lalu ia bersihkan. Terdapat banyak tumpukan mesin motor yang menghitam akibat terbakar api. “Bentuknya berdebu dan hitam,” katanya.

Pria yang menggemari karya seni instalasi itu kemudian merapikan bentuk besi tua tersebut agar kembali kinclong. Ia hanya mengambil alumunium yang meleleh lalu dibawa pulang.

“Saya lihat, bentuknya kok mirip tokoh pewayangan. Awalnya aneh terus saya bersihkan selama 3 bulan dan saya pajang di rumah. Ternyata banyak teman bilang kalau itu sekilas mirip Semar dan wayang lainnya,” urainya.

“Ini bentuknya asli. Enggak pernah diubah sama sekali. Jadilah obyek patung wayang mirip Semar dan Punakawan lainnya. Saya akan jual patung wayang ini bila ada yang berminat,” ungkapnya bangga.

Dengan menciptakan patung wayang dari sisa kebakaran Polda, ia ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa polisi tak melulu arogan di lapangan. Meski punya keterbatasan finansial, ia tetap menunjukan sosok polisi yang mampu menghasilkan karya seni bernilai tinggi.

“Yang penting barokhah, jangan sampai menyakiti masyarakat. Saya cuma pengin menunjukan hal itu,” terangnya. Saat ini, ia mampu menghasilkan 19 patung wayang dari sisa kebakaran.

Setelah memajang karyanya di Pazaarseni Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), ia berharap dapat ikut pameran di daerah lainnya. (far)