Home > METRO BERITA > Sosialita > Brigadir Henda: Musik Punk Tak Tergantikan

Brigadir Henda: Musik Punk Tak Tergantikan

Brigadir Henda Putra Aprianto. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya
Brigadir Henda Putra Aprianto. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

DI tengah-tengah tanggung jawab yang dipikulnya sebagai seorang anggota polisi, mendengarkan musik punk adalah hal yang tidak pernah bisa lepas dari keseharian Brigadir Henda Putra Aprianto.

Pria kelahiran Semarang 27 yang lalu ini memang gemar sekali mendengarkan musik beraliran cadas tersebut. Bahkan tak hanya musiknya, punk saat ini sudah mempengaruhi dirinya untuk lebih bisa menikmati hidup. “Musik punk itu menyenangkan. Sudah sejak remaja saya menyukai musik ini. Bagi saya, musik punk tak tergantikan,” tutur Henda yang kini bertugas di Mapolrestabes Semarang.

Henda pun cukup fasih menyebut band-band bergenre punk yang menjadi idolanya. Sebut saja Rancid, Greenday, dan Dropkick Murphy. “Dulu awalnya suka System of a Down. Tapi sekarang lebih memilih Rancid, menurutku mereka lebih bisa bermain lepas,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang masuk ke kepolisian melalui bintara tahun 2005 lalu juga menceritakan sedikit asal mula lahirnya musik punk di Amerika. Menurutnya punk lahir di sebuah kafe bernama CBGB yang terletak di New York, Amerika pada tahun 1973. Saat itu pendiri kafe  Hilly Kristal, membiarkan tempatnya digunakan untuk band-band indie setempat unjuk gigi.

“Kemunculan band-band seperti Ramones, The Police, Talking Heads di CBGB menjadi titik awal lahirnya punk di Amerika. Saat ini punk juga sudah  masuk di Indonesia,” tandasnya.

Kepada metrosemarang.com, Henda mengaku akan terus mendengarkan musik punk hingga tua nanti. Ia juga berharap punk tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang tabu, mengingat banyaknya pandangan miring masyarakat terhadap budaya punk. “Punk layak dinikmati siapa saja, tanpa memandang apa profesinya,” tandasnya. (yas)