Home > METRO BERITA > METRO JATENG > Buntut Konflik Pabrik Semen, Ribuan Buruh Nganggur

Buntut Konflik Pabrik Semen, Ribuan Buruh Nganggur

METROSEMARANG.COM – Polemik pembangunan pabrik semen yang berkepanjangan rupa-rupanya telah berdampak buruk bagi kelangsungan ribuan buruh PT Semen Indonesia yang ada di Kabupaten Rembang.

Aksi damai warga Rembang di Jakarta untuk mendukung pembangunan pabrik semen, beberapa waktu lalu. Foto: metrosemarang.com/istimewa

Bahkan, Bupati Rembang, Abdul Hafid mengatakan ada 2.500 buruh pabrik semen kini telah berhenti bekerja secara bertahap, pasca pencabutan izin lingkungan pabrik semen yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

“Dengan pencabutan izin lingkungan pabrik semen, maka otomatis sebanyak 2.500 pekerjanya juga berangsur-angsur tak bisa lagi bekerja. Hanya ada segelintir pekerja yang tetap beraktivitas, seperti petugas security yang tetap masuk menjaga aset negara,” kata Hafid seusai mengikuti dialog publik di Hotel Pandanaran Semarang, Selasa (24/1).

Sedangkan, menurutnya bagi para pekerja konstruksi yang telanjur meneken kontrak proyek infrastruktur juga masih tetap berjalan. Ia beralasan kalau kontraknya dihentikan sepihak maka rawan digugat oleh berbagai rekanan.

“Yang jelas, para pekerja pabrik semen terpukul karena sudah menggantungkan pekerjaan di situ. Ketika diberhentikan (proyeknya), semuanya syok apalagi mereka punya tanggungan kredit, tapi saya minta warga tenang dulu, jangan bersikap aneh-aneh agar dapat menjaga aset negara,” ungkap Hafid lagi.

Ia pun menginginkan pabrik semen tetap berdiri di kaki Pegunungan Kendeng. Hal ini nantinya dapat memacu pertumbuhan perekonomian lokal.

Dari sektor tambang bukit kapurnya saja, kata Hafid, dapat menghasilkan 3 juta ton semen tiap tahun. Jumlah ini setara dengan nilai Rp 40 miliar-Rp 50 miliar yang masuk dalam kas daerah Kabupaten Rembang.

“Kontribusinya pajak Galian C dalam proyek penambangan pabrik semen itu mencapai Rp 40 iliar- Rp 50 miliar per tahun. Sangat menjanjikan bagi perekonomian lokal,” ujar Hafid.

Namun, ia memperingatkan kepada pihak pabrik semen supaya dapat melakukan pengelolaan tambang dilakukan dengan baik dan sesuai kaedahnya.

“Kewajiban mereka wajib mereboisasi pegunungan kapur dengan maksimal. Sehingga, kita yang berada di pemerintahan punya tanggungjawab memberikan pelayanannya bagi perusahaannya,” tutur Hafid. (far)