Home > Berita Pilihan > Cerita Lain Parman Kupu, Jawara yang Melegenda di Seantero Semarang

Cerita Lain Parman Kupu, Jawara yang Melegenda di Seantero Semarang

METROSEMARANG.COM – Mendengar nama Parman Kupu tentu semua orang bergidik khususnya bagi masyarakat Semarang yang sudah sangat familier. Sosoknya begitu disegani baik oleh warga miskin maupun para penegak hukum di Ibukota Jateng.

Sugiyono alias Parman Kupu semasa hidup. Foto: dok keluarga
Sugiyono alias Parman Kupu semasa hidup. Foto: dok keluarga

Tapi, siapa sangka bila ada kisah lain di balik sosok yang punya nama besar di dunia hitam tersebut. Lahir 1959 silam, Jono sang adik, mengenal kakak kandungnya itu malah sebagai pribadi yang religius. Tak ada perawakan seram di wajahnya.

“Dia lahir di Layur tapi sejak kecil memang sudah akrab sama dunia kekerasan. Itulah yang membuatnya sering berkelahi saat dewasa,” kata Jono kepada metrosemarang.com di Kampung Kebonharjo, Minggu (18/9).

Parman, katanya, tumbuh di keluarga miskin yang terhimpit kesulitan ekonomi seperti kebanyakan orang di kota metropolitan. Namun, saat di rumah, Parman justru lebih banyak menunaikan salat lima waktu dan sesekali mengaji.

“Oangnya biasa aja. Mungkin faktor kemiskinan ditambah dia hidup berpindah-pindah tempat, hingga akhirnya6 kenal dengan banyak orang,” ujarnya seraya menambahkan bahwa hal itulah yang akhirnya membawanya berkenalan dengan sekelompok preman lokal.

Segar dalam ingatannya bahwa Parman yang punya nama asli Sugiyono itu, pertama kali terjun ke lembah hitam tatkala membunuh seorang pria yang kedapatan mengganggu istrinya. Kejadian yang menggemparkan Semarang kala itu bertepatan dengan merebaknya aksi penembakan misterius (petrus) pada 1983 silam di masa rezim Orba.

Saat mendapati korbannya tewas, Parman ditemani istrinya secara mengejutkan menyerahkan diri ke polisi. “Saya akui dia sangat jantan ketika itu,” sambung Sri Bekti, warga Kampung Keper Layur, yang mengaku kenal baik dengan sosok Parman.

Jono melanjutkan kakaknya saat itu langsung dijebloskan ke bui selama lima tahun. “Untung saja di Nusakambangan dia lolos petrus,” akunya.

“Bebas penjara lalu dia mulai kumpul-kumpul dan sering berbenturan antar preman. Itu terjadi sampai dia berulang kali masuk penjara. Mulai penjara di Rembang, Bogor, Kendal, Semarang. Dan di Nusakambangan, ia berteman dengan Anton Medan serta Jhoni Indo,” katanya.

Parman adalah seorang ahli beladiri yang sampai kini tetap disegani meski jasadnya telah menyatu dengan tanah pekuburan Bergota sejak 2014 lalu. Namanya yang menggaung hingga seantero jagad dunia hitam, membuatnya dikenal sebagai jawara yang begitu melegenda.

“Sebetulnya orangnya baik. Dia beda dengan pelaku kriminalitas lainnya. Semasa hidupnya, dia enggak pernah cari-cari masalah. Malahan kerap melindungi warga Kebonharjo sampai polisi dan tentara,” sahutnya.

Pengakuan warga lainnya pun hampir sama. Solihin, warga Tanah Mas bahkan mengenal sosok pria bertato kupu-kupu di lehernya itu sebagai juru damai. “Dia tidak arogan. Jika ada masalah justru mendamaikan. Walaupun tukang berkelahi, tapi dia orangnya tenang enggak kemaki (sombong),” paparnya.

Ia menanbahkan Parman telah membuat Kebonharjo punya wibawa besar. Selama jadi koordinator keamaman kampung, angka tindak kriminalitas di lokasi itu sempat menurun. “Ya benar. Pada masanya Kebonharjo sangat ditakuti,” kata polisi yang enggan dikutip namanya. (far)