Home > EXPLORE SEMARANG > Cerita Rohpandi, Puluhan Tahun Lestarikan Barongsai Khusus Anak-anak

Cerita Rohpandi, Puluhan Tahun Lestarikan Barongsai Khusus Anak-anak

METROSEMARANG.COM – Rohpandi tampak sibuk memoles kerangka-kerangka bambu di depan rumahnya, Jalan Wotgandul Dalam, Semarang Tengah, pada Jumat (20/1) siang. Kedua tangannya yang mulai keriput itu masih cekatan memoles kerangka bambu untuk dibuat menjadi sebuah topeng barongsai. Batangan bambu ia tekuk sedemikian rupa hingga dapat direkatkan satu sama lain.

Pengrajin barongsai meraup untung berlipat jelang perayaan Imlek. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Menjelang datangnya Tahun Ayam Api rupa-rupanya membawa berkah tersendiri baginya. Ia mengaku saat ini menangguk keuntungan berlipat.

Sejak seminggu terakhir, ia dibuat sibuk menyelesaikan pesanan yang datang dari luar kota. Dengan dibantu dua saudaranya, ia sangat teliti membuat kerajinan kepala barongsai.

“Pesanan yang saya terima terus bertambah, sampai-sampai saya¬† kekurangan tenaga kerja. Sekarang lagi mengerjakan 100 pesanan dari Makassar,” akunya kepada metrosemarang.com, Jumat (20/1).

Kini omzetnya pun ikut terkerek naik 10 persen bila dibandingkan tahun lalu. Para pemesan barongsai hasil karyanya juga datang dari Palembang, Jakarta, Bandung hingga Medan.

Ia menyampaikan barongsai buatannya memang terbilang unik. Bila barongsai umumnya berbentuk besar dan gagah. Tapi ia justru membuat barongsai berukuran mungil.

“Ini yang jadi daya tarik saya sejak lama. Saya sudah puluhan tahun membuat barongsai berukuran kecil agar dapat dimainkan oleh anak-anak baik saat kejuaraan maupun buat mainan setiap hari,” ungkap pria yang berusia lebih dari 50 tahun ini.

Membuat barongsai berukuran kecil ternyata cukup mudah. Satu kepala barongsai dibuat berukuran 80 meter. Satu-satunya kendala yang ia hadapi hanyalah cuaca.

“Jika cuaca cerah, proses pengeringan bisa cepat selesai, tapi saat hujan seperti saat ini saya butuh waktu cukup lama,” jelasnya.

Satu kepala barongsai khusus anak-anak ia jual Rp 35 ribu-Rp 250 ribu. Ia butuh seminggu untuk merampungkan pembuatan lima barongsai. “Sekarang lagi laku keras. Biasanya selain untuk atraksi juga untuk olahraga anak-anak,” tuturnya.

Ia berharap Pemkot Semarang bisa memfasilitasi para perajin barongsai seperti dirinya agar tetap eksis di tengah perubahan zaman yang kian modern. (far)

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link