Home > METRO BERITA > METRO JATENG > Cuaca Ekstrem Rusak Siklus Panen Petani Jateng

Cuaca Ekstrem Rusak Siklus Panen Petani Jateng

METROSEMARANG.COM – Cuaca buruk yang melanda sebagian besar wilayah Jawa Tengah pada tahun ini membuat masa panen para petani terganggu.

Ilustrasi
Ilustrasi

Menurut Reni Kraningtyas, Kasi Observasi BMKG Jateng para petani di tiap daerah kini mengalami gagal panen hingga mengakibatkan kerugian besar ditambah serangan hama yang memicu banyaknya penyakit pada tanaman.

“Dampaknya memang ke petani. Apalagi dengan kondisi kemarau basah seperti ini membuat perubahan cuaca tidak bisa dijadikan patokan untuk memanen padi maupun palawija. Akibatnya, siklus panen jadi berantakan,” katanya saat menggelar seminar perubahan iklim di Aston Semarang, Senin (31/10).

Anomali cuaca yang ekstrem dipicu adanya badai La Nina yang melanda Pulau Jawa hingga tutup tahun nanti. Meski La Nina terpantau melemah, tapi saat ini menyebabkan musim penghujan maju dari perkiraan awal.

“Normalnya Oktober tapi kita pantau September sudah mulai hujan. Ini sangat berbeda dengan tahun lalu dimana saat El Nino datang justru muncul musim kemarau sangat panjang,” jelasnya.

Untuk curah hujannya pun sekarang kian lebat yakni diatas 50 milimeter perhari dengan tingkat kelembaban udaranya 70-80 persen.

“Situasi inilah yang membuat petani kebingungan. Karena mereka tak bisa menanam palawija di tanah yang becek,” terangnya.

Badai La Lina yang melemah diperkirakan bakal terjadi sampai Januari 2017 nanti. Setelah itu, kata Reni, cuaca akan kembali normal meski musim penghujan tetap muncul dengam intensitas rendah.

Atas kondisi itulah, ia mengimbau kepada petani holtikultura dan palawija agar mengurangi jadwal penyemprotan pestisida. Menurutnya, lebih baik pemberian pestisida diselingi dengan pupuk organik agar daya tahan tanaman jadi lebih kuat. (far)