Home > METRO BERITA > Demi Bela Jateng, Tugiman Tolak Tawaran jadi PNS Bengkulu

Demi Bela Jateng, Tugiman Tolak Tawaran jadi PNS Bengkulu

METROSEMARANG.COM – Prestasi yang ditorehkan Marcus Tugiman membuatnya nyaris menyeberang ke Bengkulu. Namun, tawaran menjadi PNS dengan tegas dia tolak demi impiannya membela Jawa Tengah di PON 1984.

Marcus Tugiman di antara tumpukan barang bekas. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Marcus Tugiman di antara tumpukan barang bekas. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Memang, Tugiman pernah mendapat tawaran untuk menjadi atlet balap sepeda Bengkulu. Jika diterimanya tawaran itu, kata dia, mungkin saja hidupnya tak sesusah sekarang.

”Kalau mau pindah, saya ditawari pekerjaan. Bisa menjadi pegawai atau marinir. Tapi demi membela Jateng, saya bertahan,” kenangnya saat ditemui metrosemarang.com di rumahnya, Kampung Tanggungrejo, RT 1 RW 5, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Rabu (10/8) sore.

Setelah itu, berbagai kemalangan justru menghampiri dirinya. Mulai dari sepedanya yang dicolong mekaniknya sendiri sampai penyakit kusta yang dia derita. Tugiman pun harus menanggalkan status atlet dan beralih profesi sebagai pemulung.

Di usianya yang sudah 56 tahun ini tak ada keinginan muluk-muluk yang ia harap. Dia hanya ingin menyalurkan ilmu dan pengalamannya pada atlet-atlet muda balap sepeda.

“Kalau bisa saya ingin bisa melatih, bukan di jalan raya karena tangan saya sudah begini, di stadion. Saya bisa melatih di stadion,” ungkapnya.

Secercah harapan muncul ketika Ketua Umum Pengprov Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Jateng, Dede Indra Permana mengunjunginya pada Juli lalu. Menurut Tugiman, Dede akan berusaha membantu untuk mendapat dana pensiun mantan atlet.

Marcus Tugiman  Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Marcus Tugiman
Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Namun, Tugiman dan istrinya Ngatminah tidak ingin terlalu berharap. Mereka sudah bersyukur masih dapat hidup dan makan sehari-hari bersama ketiga anaknya.

Hanya saja kadang Tugiman merasa sedih karena ketiga anak lelakinya tak ada yang ingin menjadi atlet sepertinya. Anaknya telanjur kecewa dengan nasib ayahnya. “Anak saya bilang buat apa kerja keras jadi atlet, bapak saja diabaikan, mereka kecewa,” ungkap Tugiman.

Meski demikian ia mengaku tak menyesal dengan hidupnya. Hanya saja ia tak lagi berani menyapa atau sekadar bertukar kabar dengan Fani Gunawan, Eriyono, Toni Sartono, rekan seangkatannya semasa jadi atlet.

Torehan medali emas Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Tengah dan medali Perak Pra PON 1983, hanya sekelumit kisah manis yang pernah diukir Marcus. Kini, tak ada yang mengenalnya sebagai seorang atlet. Hanya medali dan piagam-piagam penghargaan yang menjadi bukti ketangkasan dan kejayaan seorang Marcus Tugiman. (vit)