Home > Berita Pilihan > Dewan Desak Full Day School Dihentikan

Dewan Desak Full Day School Dihentikan

METROSEMARANG.COM – Kalangan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang menyatakan menolak penerapan full day school. Selain itu, meminta Dinas Pendidikan Kota Semarang mengembalikan penerapan sekolah 6 hari seminggu dan 6 jam sehari.

Massa KMPP menggelar aksi tolak sekolah lima hari, Jumat (21/7). DPRD Kota Semarang mendesak full day school dihentikan. Foto: metrosemarang.com/dok

Penolakan itu disampaikan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) dalam Rapat Paripurna Pemandangan Umum, terhadap rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah Kota Semarang tahun anggaran 2018 di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Semarang, Senin (6/11).

Ketua FPKS DPRD Kota Semarang Suharsono mengatakan, pihaknya menolak setelah mengkaji penerapan sekolah 5 hari seminggu dan 8 jam per hari atau sering disebut full day school, dampaknya terhadap kegiatan pendidikan keagamaan dan karakter di masyarakat.

”Penerapan full day school, dengan alasan menambah jam untuk pendidikan karakter di sekolah, justru telah mematikan kegiatan pendidikan karakter dan keagamaan yang dikelola oleh masyarakat,” jelasnya.

Dia mengatakan, penerapan full day school justru mematikan kegiatan pendidikan karakter dan keagamaan yang diselenggarakan masyarakat pada waktu sore hari sepulang sekolah. Seperti madrasah dan taman pendidikan Alquran.

”Anak-anak tidak ada waktu mengikuti pendidikan di madrasah/TPQ karena pulang sekolah sudah sore hari dan kelelahan. Akibatnya, pendidikan di madrasah/TPQ berhenti atau terganggu. Padahal mestinya pendidikan karakter di sekolah dan masyarakat harus beriringan,” katanya.

Ditegaskan, terbitnya Peraturan Presiden No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, telah memberikan payung hukum bagi keberadaan pendidikan karakter di madrasah yang kebanyakan dikelola oleh masyarakat tersebut.

Karena itu, Suharsono menegaskan FPKS mendesak Dinas Pendidikan agar menghentikan penerapan sistem full day school di sekolah-sekolah yang diujicoba, dan mengembalikan penerapan sistem pembelajaran seperti semula. (duh)