Home > METRO BERITA > Dewan Ingin Ganti Rugi SMP 16 Semarang Diperjelas

Dewan Ingin Ganti Rugi SMP 16 Semarang Diperjelas

METROSEMARANG.COM – DPRD Kota Semarang menyesalkan proses ganti rugi bangunan SMP Negeri 16 Semarang yang tergusur jalan tol Semarang-Batang belum jelas. Meski hanya 10 persen bangunan yang kena tapi model ganti rugi harus segera dipastikan.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, bersama anggota komisi D lainnya dan perwakilan pemkot saat meninjau SDN Ngaliyan 2, Senin (7/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, bersama anggota komisi D lainnya dan perwakilan pemkot saat meninjau SDN Ngaliyan 2, Senin (7/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

”Karena yang tergusur hanya 10 persen modelnya ganti rugi atau tukar guling. Ini harus dipertegas karena sebentar lagi dimulai pembahasan KUA PPAS anggaran 2017,” kata Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, Rabu (9/11).

Kalau modelnya ganti rugi lahan dan bangunan  nanti uang ganti rugi dari pemerintah pusat masuk ke kas daerah Kota Semarang. Kemudian dianggarkan pembangunan gedung baru di SMPN 16 pada 2017 oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Tapi kalau yang diterapkan tukar guling lahan, maka bangunan sekolah yang terkena jalan tol harus dibangunkan di tempat lain, baik dengan ganti rugi ataupun tukar guling. Bangunan sekolah yang terkena tol juga tidak boleh dibongkar dulu, sebelum bangunan baru untuk pengganti selesai didirikan.

”Karena itu, kami minta sekolah harus cepat menghitung kerugiannya berapa dan butuh anggaran berapa untuk membangun lagi bangunan yang kena jalan tol,” kata Anang BU.

Seperti diketahui, beberapa fasilitas SMPN 16 Semarang bakal terkena proyek pembangunan jalan tol. Seperti aula, ruang guru, ruang bimbingan konseling dan ruang penjaga sekolah. Sejumlah 5 ruang kelas juga akan ikut tergusur.

Namun demikian proses ganti ruginya masih belum jelas. Apa dengan ganti rugi uang atau tukar guling lahan. Sebab sejauh ini dari pihak pelaksana pembangunan jalan tol belum pernah mendatangi atau mengajak ketemuan dengan sekolah.

Dinas Pendidikan Kota Semarang juga menyatakan belum pernah diajak bicara pelaksana pembangunan. Bahkan pihak sekolah justru mengetahui sekolahnya ikut tergusur dari pihak kecamatan setempat secara tak sengaja. (duh)