Home > Berita Pilihan > Dibayar Rp 3 Juta, Bidan Ini Dibui karena Bantu Aborsi

Dibayar Rp 3 Juta, Bidan Ini Dibui karena Bantu Aborsi

METROSEMARANG.COM – Seorang bidan di Magelang terancam hukuman 10 tahun penjara karena diduga terlibat dalam kasus aborsi yang mengakibatkan kematian Riyati (40) warga Desa Sukorejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Untuk melakukan aksi ilegal tersebut dia mendapat imbalan Rp 3 juta.

Foto: metrojateng.com
Foto: metrojateng.com

Polres Magelang menetapkan empat orang tersangka dalam kasus kematian Riyati (40). Mereka adalah bidan M (44) warga Tempuran, B (43) seorang sopir warga Tegalrejo, NU (27) seorang perawat warga Mertoyudan dan J (53), selaku perantara.

“Mereka kini ditahan sambil menunggu berkas dilimpahkan ke Kejaksaan,” kata Kasatreskrim Polres Mageang AKP Rendy Wicaksana didampingi Kanit PPA, Aiptu Isti Wulandari, dalam  gelar perkara, Jumat (28/10).

Dari hasil penyelidikan, kata Rendy, aborsi dilakukan karena permintaan dari korban sendiri. Sedangkan B, pacar korban sudah berusaha melarang dan bersedia mengasuh anak yang dikandung korban bila nantinya lahir.

“Namun karena terus dipaksa, akhirnya B menyanggupi dan minta tolong perantara J untuk menyampaikan ke bidan M yang praktik di Klinik Fajar Pratama Mertoyudan pada Sabtu 27 Februari lalu.

Saat itu bidan M menyanggupi melakukan aborsi karena tergiur dengan imbalan yang akan diperoleh, sebesar Rp 3 juta. “Untuk biaya aborsi Rp 2,5 juta dan sisanya uang jasa J,” paparnya.

Korban diberi obat untuk menggugurkan janin. Sepulang dari praktik bidan, malam harinya korban memberitahu bidan M dan NU bahwa janin yang ada di perutnya sudah keluar. Namun ari-arinya masih tertinggal. “Korban kemudian mengeluarkan sendiri ari-ari itu dengan cara menarik,” ungkap Esti.

Korban kemudian dibawa B ke dokter H. Namun kondisi korban semakin lemah karena kehilangan banyak darah hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Budi Rahayu. Sayang, nyawa Riyati tidak dapat diselamatkan.

Kematian korban menimbulkan rasa curiga pihak keluarga sehingga melaporkan masalah itu ke Polres Magelang. Guna penyelidikan, petugas melakukan pembongaran makam korban pada 19 Juli lalu.

Dari hasil autopsi diketahui ada indikasi upaya aborsi menggunakan obat dengan dosis tertentu sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia.

Akibat perbuatannya, tersangka  dijerat pasal 194 UURI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan atau pasal 348 KUHP. Ancaman hukumannya yakni penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. (metrojateng.com/MJ-24)