Home > METRO BERITA > Digerogoti Kusta, Mantan Atlet Ini Banting Setir jadi Pemulung

Digerogoti Kusta, Mantan Atlet Ini Banting Setir jadi Pemulung

METROSEMARANG.COM – Senyum lebar mengembang di wajah Marcus Tugiman saat metrosemarang.com mengunjungi rumah sederhananya di Kampung Tanggungrejo, RT 1 RW 5, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Rabu (10/8) sore. Dari penampilannya yang lusuh, tak ada yang mengira jika dia merupakan mantan atlet hebat dengan sederet prestasi. Kini, sang atlet lebih dikenal sebagai pemulung yang tiap hari harus bergulat dengan limbah.

Marcus Tugiman memamerkan piagam dan medali yang pernah dia peroleh di masa jaya. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Marcus Tugiman memamerkan piagam dan medali yang pernah dia peroleh di masa jaya. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Iming-iming beasiswa bagi pelajar hingga atlet berprestasi memang menggiurkan. Tawaran ini pula yang menghampiri Marcus Tugiman. Bukan beasiswa memang, tapi tawaran membela Jawa Tengah dalam PON 1984.

Sayangnya tawaran itu tak pernah menjadi kenyataan. Kini tubuh Tugiman sudah renta. Jemarinya yang dulu mantap memegang stang sepeda kini mati rasa. Kusta menggerogoti tubuhnya sejak 1987.

Tugiman dengan jemarinya yang sudah menjadi kaku karena kusta sibuk bergulat dengan tumpukan botol plastik bekas. Memilih dan memilahnya pada wadah berbeda. Benar, saat ini Tugiman menjadi seorang pemulung. Mantan atlet balap sepeda yang berjaya pada tahun 1983-1984 ini tak lagi mengayuh sepeda. Tapi memanggul karung berisi barang rongsokan.

Dengan mata berkaca-kaca, Tugiman menceritakan masa kejayaannya sebagai seorang atlet, 30 tahun silam. Prestasi gemilangnya adalah meraih medali emas, pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Tengah tahun 1983. Selain itu, ia juga mendapat medali perak pada ajang Pra PON di tahun yang sama. Dia juga turun pada ajang Tour de Jawa yang menempuh rute Jakarta-Surabaya.

”Setelah Pra PON, saya berhenti karena sepeda dibawa kabur mekanik saya. Waktu itu sepeda dibelikan KONI, sementara onderdil dari sponsor,” kata atlet seangkatan Fani Gunawan ini.

Sejak saat itu, Tugiman mengaku frustrasi. Sepeda yang selama ini menemaninya raib. Ia pun tak kuasa untuk meminta bantuan sepeda, karena sudah telanjur sakit hati dan kecewa.

Sejak berhenti jadi atlet, ia memutuskan menjadi tukang becak. Tetapi pada tahun 1987, kusta menggerogoti tubuhnya. Selama 6 tahun Tugiman tak tahu penyakitnya. Baru pada tahun 90-an, Yayasan Ronggowarsito membantu biaya pengobatannya.

Kini, pria 56 tahun ini menghabiskan masa tuanya bersama istri, Ngatminah dan ketiga anaknya. Baginya, sederet piagam dan medali yang pernah diraih Marcys tetaplah menjadi kebanggaan, meski kini dia sudah dilupakan. (vit)