Home > METRO BERITA > METRO SPORT > Dilema Benteng Terakhir Mahesa Jenar

Dilema Benteng Terakhir Mahesa Jenar

METROSEMARANG.COM – Cedera panjang yang dialami Fajar Setya Jaya menempatkan PSIS dalam situasi krisis penjaga gawang. Dengan dua kiper yang tersedia saat ini tentu saja bukan pilihan ideal yang harus dihadapi skuat Mahesa Jenar.

Syaiful Amar menjadi andalan benteng terakhir Mahesa Jenar. Foto: metrosemarang.com/tri wuryono
Syaiful Amar menjadi andalan benteng terakhir Mahesa Jenar. Foto: metrosemarang.com/tri wuryono

Minggu (9/10) menjadi hari kelabu bagi Fajar Setya Jaya. Sejak meninggalkan skuat untuk membela Tim PON Jateng, pemuda asli Semarang itu kembali dipercaya mengawal gawang PSIS saat meladeni Persekap Pasuruan di matchday 2 babak 16 besar Indonesia Soccer Championship (ISC) B.

Alih-alih tampil heroik, Fajar harus mengakhiri laga lebih dini sebelum sempat merasakan ancaman dari kubu lawan. Portiere berusia 21 itu mengalami cedera saat melakukan selebrasi gol kedua Johan Yoga di menit 20. Kemenangan 3-1 PSIS seolah terasa hampa dengan cedera yang membekap Fajar.

Sang shot stopper kemudian divonis mengalami cedera anterior curciate ligament (ACL). Laga kontra Persekap tersebut dipastikan menjadi ‘perpisahan’ yang menyesakkan bagi Fajar karena dia harus naik meja operasi untuk mengatasi cederanya dan tak bisa lagi beraksi bersama Mahesa Jenar, setidaknya hingga 10 bulan ke depan.

Fajar Setya Jaya harus istirahat minimal 10 bulan akibat cedera ACL. Foto: metrosemarang.com/tri wuryono
Fajar Setya Jaya harus istirahat minimal 10 bulan akibat cedera ACL. Foto: metrosemarang.com/tri wuryono

Kabar ini jelas menjadi pukulan telak bagi si pemain maupun tim. Setelah bergabung sejak 2014 silam, baru di musim ini Fajar mendapat kepercayaan mengawal gawang Mahesa Jenar.

Dia nyaris selalu menjadi pilihan utama di bawah mistar saat PSIS melakoni fase reguler ISC B, meski harus bersaing dengan Syaiful Amar dan Barep Wahyudi. Total enam penampilan dibukukan Fajar dan mencatat tiga cleansheet.

PSIS pun harus bertarung di sisa turnamen ISC B dengan dua kiper tersisa, di mana Syaiful Amar bakal menjadi andalan utama sebagai benteng terakhir tim Ibukota Jateng. Eks kapten Persik Kendal itu akan dilapis Ivan Febrianto yang direkrut jelang bergulirnya babak 16 besar.

Komposisi dua kiper sebenarnya sudah cukup bagi PSIS andai tidak terjadi masalah di antara keduanya. Namun, dengan level Ivan Febrianto yang dianggap masih terlalu jauh di bawah Syaiful Amar, tim jawara Liga Indonesia 1999 bisa sangat menderita jika kiper utama berhalangan tampil.

“Cumi (sapaan Syaiful Amar) cukup bisa diandalkan. Tapi, dia juga butuh persaingan di dalam tim untuk meningkatkan level permainannya,” kata pelatih kiper, Budi Cipto, beberapa waktu lalu.

Krisis kiper kali ini bukanlah situasi yang lazim dihadapi PSIS. Dalam tiga musim terakhir, tim yang ber-home base di Stadion Jatidiri ini setidaknya memiliki tiga shot stopper dengan kualitas A.

Di era Divisi Utama 2014, Catur Adi Nugroho punya pelapis Ivo Andre dan Fajar Setya Jaya. Tahun 2015 sebenarnya menjadi salah satu musim terbaik PSIS, di mana mereka punya tiga kiper dengan kemampuan merata. Saat itu ada Ega Rizky, Syaiful Amar dan Fajar. Sayang, tim ini hanya mampu memersembahkan trofi Polda Jateng karena kompetisi resmi dibekukan.

“Kami sebenarnya sudah menyampaikan kondisi tim kepada operator, dengan harapan bisa menambah pemain lagi di luar bursa tranfer. Tapi, regulasi kali ini memang tidak bisa. Tentunya kami berharap agar dua kiper yang ada saat ini bisa meningkatkan level masing-masing,” beber Wahyu ‘Liluk’ Winarto, Manajer Tim PSIS.

PSIS masih harus melakoni delapan pertandingan lagi jika berhasil melaju ke partai final. Dengan demikian, fans dan penggawa Mahesa Jenar berharap Cumi bisa selalu bugar dan tidak mendapat gangguan cedera maupun kartu di sisa musim. (twy)