Diprotes Ormas, Acara Cap Go Meh di Semarang Justru Pecahkan Rekor Muri

METROSEMARANG.COM – Perayaan Cap Go Meh di Kota Semarang justru mampu mencetak rekor Muri walaupun sempat ditentang oleh gerombolan ormas ekstrem. Acara bertajuk ‘Pelangi Merajut Nusantara’ mengukir rekor sebagai pemakan lontong Cap Go Meh terbanyak di Indonesia, mengalahkan Kabupaten Berau Kaltim.

Perayaan Cap Go Meh di Balai Kota Semarang, Minggu (19/2) malam. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Acara makan lontong Cap Go Meh di Balai Kota Semarang memecahkan rekor dengan menghadirkan 11.760 porsi, mengalahkan rekor yang dipegang Kabupaten Berau dengan porsi 11. 000 buah,” ungkap seorang perempuan yang mewakili Muri.

Gelaran Cap Go Meh yang sedianya diadakan di MAJT akhirnya dipindah ke Balai Kota. Namun acaranya pada Minggu (19/2) malam terbilang meriah lantaran dipadati ribuan warga Semarang.

Hal ini seolah menegaskan bahwa masyarakat Semarang tak khawatir dengan adanya penolakan dari kelompok ekstremis. “Ya saya memang enggak peduli apakah itu diprotes atau tidak, yang penting saya senang bisa merayakan Cap Go Meh di sini,” kata Gatot Raharjo, warga Tlogosari Semarang.

Tak hanya warga Tionghoa yang memadati lokasi acara. Semua umat lintas agama pun ikut berjubelan merasakan kehangatan budaya Cap Go Meh.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan Cap Go Meh jadi ajang merajut Kebhinnekaan. Ia bilang, perayaan itu semakin semarak apalagi cara konsep acaranya mengusung tradisi dan budaya, yang tidak berkaitan dengan agama.

“Sama halnya dengan orang Jawa menggelar Suronan. Kita sangat majemuk, kalau ada yang masih berpandangan lain, kami akan berdiskusi supaya pemahamannya seimbang,” terangnya.

Dewi Susilo Budiharjo, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) menyebut lontong Cap Go Meh merupakan kekayaan adiluhung Tionghoa yang patut dilestarikan.

“Ini merupakan proses akulturasi budaya dengan kearifan lokal. Tujuannya untuk persatuan dan kesatuan bangsa kita yang berbeda suku, budaya dan agama,” ujar Dewi.

Sedangkan, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, menegaskan Cap Go Meh resmi dilindungi Undang-Undang. Makanya, ia menyatakan kepada semua pihak untuk saling menghormati perbedaan budaya agar dapat menciptakan situasi yang kondusif.

Ajang Cap Go Meh juga dimeriahkan atraksi Liong dan sendratari ‘Kera Sakti’. Selain itu, ada pula kolaborasi tarian sufi dengan saksofon yang dimainkan Pastor Gereja Paroki Kristus Raja Ungaran, Romo Aloysius Budi Purnomo. (far)