Home > METRO BERITA > METRO GAYA > Komunitas > Drama ‘Temon’ Meriahkan Pensi SMP Al Azhar 14 Banyumanik

Drama ‘Temon’ Meriahkan Pensi SMP Al Azhar 14 Banyumanik

METROSEMARANG.COM – Rakyat Indonesia sudah tidak lagi menerima perlakuan Belanda yang semena-mena. Hampir di tiap daerah, mulai muncul semangat untuk memberikan perlawanan. Mereka yang berasal dari kelompok kelompok kecil bersatu padu menggalang kekuatan.

Pementasan drama di SMP Al Azhar Banyumanik, Sabtu (12/11). Foto: metrosemarang.com/istimewa
Pementasan drama di SMP Al Azhar Banyumanik, Sabtu (12/11). Foto: metrosemarang.com/istimewa

Di balik keberanian rakyat pribumi untuk mengusir Belanda, ada api perlawanan yang disulut oleh seorang bocah kecil bernama Temon. Ia adalah seorang yatim piatu, karena kedua orang tuanya tewas dibunuh penjajah.

Temon tidak sendiri, di tangannya terpegang ketapel. Dan ia ditemani bocah perempuan bernama Atun. Keduanya terus bergerilya menggalang kekuatan hingga ke pelosok negeri. Kemudian, dengan berbekal bambu runcing, pasukan Indonesia pun akhirnya mampu menaklukkan penjajah dalam sebuah pertempuran.

Demikian penggalan kisah dalam drama yang dimainkan oleh siswa siswi SMP Al Azhar 14 Banyumanik, Sabtu (12/11). Cerita yang ditulis dan disutradarai Wikha Setiawan tersebut memeriahkan acara pentas seni (Pensi) di sekolah setempat.

Juhan, seorang guru SMP Al Azhar 14 Banyumanik mengatakan bahwa pementasan drama sengaja mengambil tema perjuangan supaya menumbuhkan rasa nasionalisme terhadap siswa.

“Kebetulan bertepatan masih bernuansa Hari Pahlawan. Jadi, pensi kali ini banyak mengandung cerita-cerita kepahlawanan,” ujarnya.

Selain drama, pensi kali ini juga menyuguhkan bakat siswa. Diantaranya acapella, band, paduan suara, angklung, dance, dan lain lain.

“Untuk persiapan khusus pensi kami lakukan sebulan terakhir. Para pelatih sebagian dari guru dan dari luar. Kami ingin memberikan yang terbaik,'” papar dia.

Wikha Setiawan, menambahkan dirinya tidak menemukan kesulitan saat berproses dengan siswa SMP Al Azhar. Sebab, secara kualitas SDM sangat mumpuni.

“Secara intelektualitas mereka bagus. Kami kerap diskusi. Saya hanya menata di bagian panggung,” katanya.

Diakuinya penggarapan kali ini tidak membutuhkan waktu lama. Mulai penyusunan naskah sampai pentas hanya satu bulan.

“Para siswa sangat antusias. Setidaknya mereka dapat mengenal bagaimana negara ini merdeka dari penjajah. Ke depan, diharapkan mereka sadar dan tahu bagaimana cara mengisi kemerdekaan itu sendiri,” tuturnya.

Mega, pemeran dalam pementasan mengaku berkesan karena baru kali ini ia tampil dalam pementasan drama. “Ada pelajaran baru yang saya dapat. Ternyata drama itu mengasikkan,” tukas dia. (*)