Home > METRO BERITA > Eks Tentara Pelajar Ini Beri Wejangan Khusus buat Siswa SMP 2 Semarang

Eks Tentara Pelajar Ini Beri Wejangan Khusus buat Siswa SMP 2 Semarang

METROSEMARANG.COM – Usia tak menjadi penghalang bagi Suhendro Amijoyo untuk bertutur tentang pengalamannya di masa perjuangan kepada siswa-siswi SMP Negeri 2 Semarang, Selasa (16/8). Veteran perang berusia 88 tahun ini memberi banyak wejangan untuk anak-anak yang kelak bakal melanjutkan perjuangannya.

Suhendro Amijoyo Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Suhendro Amijoyo
Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Pria kelahiran 22 September 1928  ini masih menunjukkan semangatnya. Ia menolak dijemput dan memilih untuk datang sendiri ke SMP N 2 Semarang yang terletak di Jalan Brigjen Katamso No. 14, Karangtempel, Semarang Timur.

Eyang Hendro merupakan seorang pejuang dari Tentara Pelajar (TP), yang merupakan satuan pejuang kemerdekaan yang terdiri dari para pelajar. Ia mengungkapkan usianya saat ikut berjuang melawan penjajah masih sangat muda, yaitu 17 tahun. “Semua pelajar, dari pimpinan sampai anak buah,” ungkap Hendro.

Di usianya yang sudah senja, Hendro ternyata tidak memiliki gelar purna. Sebagai seorang TP, ia dan rekan-rekannya mendapatkan tawaran menjadi seorang anggota angkatan, baik darat, laut atau udara dengan mengikuti pelatihan. “Kalau mau bisa masuk angkatan, atau jadi PNS, juga Swasta,” imbuh Hendro.

Hendro, yang pagi itu berdandan lengkap dengan seragam kebanggaannya sedikit terhenyak ketika mendapat pertanyaan perihal rasa takut saat berperang. “Perang itu adalah tentang membunuh atau dibunuh, jika tidak ingin terbunuh maka harus berani membunuh musuh,” tutur Hendro.

Namun, senyum mengembang di wajah rentanya. Ia mengakui bahwa di dalam hati kecilnya ada rasa takut akan kematian. “Maka dibutuhkan pemimpin yang bisa membebaskan anak buahnya dari rasa takut,” imbuhnya.

Begitu pula bagi generasi muda, tidak boleh takut dalam menghadapi tantangan. Terlebih dalam mengajar prestasi. Seperti pejuang saat melawan penjajah tidak mengenal rasa takut, maka para siswa pun tidak boleh takut dalam berprestasi.

“Rasa takut pasti ada, tapi jangan menjadi lemah karena rasa takut itu,” pungkas Hendro. (vit)