Home > METRO BERITA > Empat Warga Semarang Tewas Tertabrak Kereta, Pemerintah Harus Bertanggung Jawab

Empat Warga Semarang Tewas Tertabrak Kereta, Pemerintah Harus Bertanggung Jawab

METROSEMARANG.COM – Kecelakaan yang kerap terjadi di perlintasan sebidang yang tidak dijaga di beberapa daerah, terutama yang terjadi pada Sabtu (20/5) di Grobogan membuat pakar transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno angkat bicara. Menurutnya, untuk mengantisipasi kecelakaan pada perlintasan sebidang tersebut harus melalui dua cara yaitu dijaga atau ditutup.

Perlintasan tanpa palang pintu menjadi kerap menjadi penyebab kecelakaan. Foto: metrosemarang.com/dok

“Kepala daerah lebih sering mengabaikan. Tidak ada tindakan. Bahkan lebih kerap menyalahkan operator dari PT KAI jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” kata dia.

Padahal, lanjut Djoko, ini adalah salah satu kewajiban Pemda untuk mengawasi lokasi-lokasi rawan kecelakaan lalu lintas. Sesuai amanah UU 22/2007 tentang Perkeretaapian, prasarana perkeretaapian (track, sintelus, perlintasan) adalah tanggungjawab pemerintah, termasuk pemerintah daerah.

Saat ini banyak perlintasan yang justru dijaga personel PT KAI yang notabene bukan tanggung jawab mereka. “Sampai kapan menunggu kepala daerah yang sadar. Kepala daerah banyak yang gagal paham tentang hal ini,” pungkasnya.

Kecelakaan maut terjadi KM 53/300 hingga emplasemen Stasiun Sedadi Kabupaten Grobogan sekira pukul 10.35. KA Argo Bromo Anggrek ditemper mobil Avanza warna silver bernomor polisi B 1937 UZQ.

Mobil Avanza berpenumpang empat orang tersebut merupakan rombongan hajatan asal Semarang. Minibus kemudian terseret sekitar 500 meter dari lokasi kejadian di KM 53/300 hingga emplasemen Stasiun Sedadi dan terbakar.

Empat orang meninggal di lokasi, yakni Agus Bambang (60) warga Perumahan Dinar Mas Semarang, Agus Abdullah (54) warga Ketilang Semarang, Ihsan Ngadikan (58) warga Dinar Mas Semarang dan Bahtiar (30) warga Dinar Mas Semarang. (ade)