Home > METRO BERITA > Sosialita > Fandhi Nugroho, Pemuda Pelopor Bidang Informasi Komunikasi dan Pendidikan

Fandhi Nugroho, Pemuda Pelopor Bidang Informasi Komunikasi dan Pendidikan

SEGUDANG prestasi diukir Fandhi Nugroho Lutfi, baik di level nasional maupun internasional. Atas prestasinya tersebut, dia juga didaulat sebagai pemuda pelopor bidang informasi komunikasi dan pendidikan di Kota Semarang.

Fandhi Nugroho Lutfi  Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Fandhi Nugroho Lutfi
Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

Kepercayaan diri adalah syarat pertama untuk melakukan hal-hal besar. Itulah yang menjadi pedoman pemuda kelahiran Grobogan, 22 tahun silam saat memutuskan menekuni dunia industri kreatif. Fandhi mulai menemukan passionnya tersebut ketika menempuh pendidikan di SMK Negeri 11 Semarang dengan jurusan yang kini menjadi bagian dari hidupnya, yakni animasi.

Selepas lulus SMK, Fandhi sebenarnya tidak berniat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Alasannya, dia ingin mengubah mindset masyarakat terhadap industri kreatif yang dianggap tidak memiliki potensi pekerjaan yang menggiurkan.

Sayangnya, niat tersebut tertunda karena pemuda asal Jabungan Semarang itu mendapat beasiswa di Poliseni Yogyakarta yang dilanjutkan pendidikan vokasi D-IV dengan jurusan Game Technology di ITB Bandung.

Namun, setidaknya kini Fandhi bisa mematahkan asumsi negatif tentang industri kreatif. Startup atau usaha rintisan digital yang dia buat berhasil menyabet sejumlah penghargaan bergengsi.

Di antaranya nominator Indonesia ICT Award (INAICTA) pada 2013, menjadi peserta pada ajang Popcorn Asia dan Kotra Cartoon Network (Animation Conference) with Walt Disney, Nickelodeon, Dreamwork pada tahun 2014.

Pada 2015, dia meraih 6 Best Startup Competition di Semarang. Dan baru-baru ini pada 2016 dia meraih 1st Winner Innovation Technology Competition di Yogyakarta dan menjadi Pemuda Pelopor Bidang Informasi Komunikasi dan Pendidikan di Semarang.

“Awalnya bersama temen, adik kelas yang dulu saya ajar juga. Saya waktu itu sudah kuliah tapi inginnya bekerja sendiri. Jadi sekarang memutuskan untuk membuat studio sendiri yang kami kembangkan. Sebelum sampai lulus sekolah malah kita udah punya portofolio yang sudah dilirik sana sini,” kata dia, Sabtu (8/10).

Startup Fandhi kemudian dinamai Graf Motion yang lebih spesifik pada game dan apps developer dan juga sinematex dengan konsentrasi startup bidang IT. Sinematex memang bukan ranah Fandhi, tapi ia mencoba keluar dari zona nyamannya di dunia animasi dengan menggandeng salah satu temannya di bidang IT.

Sinematex sendiri merupakan sayap dari startup yang ia buat sebagai strategi dan penyeimbang sehingga nantinya diharapkan akan menghasilkan produk-produk yang bersinergi dan dahsyat.

Perkembangan industri kreatif sendiri khususnya di Semarang menurut Fandhi masih kurang mendapat perhatian. “Semarang belum memiliki asosiasi kreatif untuk menuangkan berbagai kreativitas di perencanaan kota. Berbeda dengan Bandung, Solo, Jogja dan Pekalongan, sehingga menjadikan Kota Semarang kurang menarik,” tutupnya. (ade)