Home > METRO BERITA > Gagal Lolos SNMPTN, Alan Kini Kebanjiran Tawaran Beasiswa

Gagal Lolos SNMPTN, Alan Kini Kebanjiran Tawaran Beasiswa

METROSEMARANG.COM – Kisruh terkait kegagalan ratusan siswa SMA Negeri 3 Semarang dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2016 telah berlalu. Namun siapa sangka, salah satu siswa yang gagal itu ternyata baru saja meraih medali perak di kancah internasional, hingga membuatnya kebanjiran tawaran beasiswa.

Maulana Imam Setyo Putro menunjukkan medali yang diraih di International Chemistry Olympiad (IChO). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Maulana Imam Setyo Putro menunjukkan medali yang diraih di International Chemistry Olympiad (IChO). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Adalah Maulana Imam Setyo Putro, remaja kelahiran Surabaya, 18 September 1999 yang telah membuktikan kemampuan akademiknya melalui torehan medali perak olimpiade kimia internasional atau Internasional Chemistry Olympiad (IChO) di Tblisi, Georgia. Bahkan, Alan sapaan akrabnya, menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah.

Kegagalannya saat SNMPTN tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Kini setelah ia meraih medali perak IChO yang digelar 23 Juli hingga 1 Agustus 2016 di Tbilisi, tawaran beasiswa S1 hingga S2 berdatangan padanya. “Beasiswa dari Kementerian, S1 di dalam negeri dan  S2 di luar negeri,” papar putra pasangan Tri Hapsari dan M. Puji Setyono kepada metrosemarang.com, Kamis (4/8).

Saat ini, Alan juga sudah memastikan satu tempat di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Namun begitu, ia mengaku kurang puas lantaran proses penerimaan hanya ditentukan berdasar nilai tes yang didapatnya saja.

Tawaran beasiswa dari kementerian pun belum dia pikirkan. Alan tidak ingin kuliah di Indonesia selama empat tahun. Apalagi, ia juga sudah diterima kuliah di NUS (Nasional University of Singapore). “Kalau di NUS ada medali perak ini sudah bisa jadi syarat beasiswa, tapi belum ada keputusan dapat beasiswa atau tidak,” imbuh remaja berkacamata ini.

Menurut Alan, biaya kuliah di NUS sangat mahal jika taka da beasiswa, terlebih ia masih memiliki adik serta kakak yang juga masih sekolah. Jika berhasil meraih beasiswa dari NUS, maka dirinya harus menjalankan program dari pemerintah Singapura untuk bekerja selama tiga tahun di Negeri Singa setelah lulus kelak.

Perihal beasiswa dari kementerian, ia mengaku kemungkinan tidak akan diambilnya. Kalau pun tidak bisa meraih beasiswa dari NUS, maka ia akan mencoba tahun depan. Tetapi Alan optimistis dengan medali perak yang diraihnya ia punya peluang untuk bisa kuliah di NUS.

“Mungkin saya akan kuliah satu tahun di sini, tapi kalau empat tahun saya tidak mau. Juga beasiswa dari kementerian sepertinya tidak akan saya ambil, karena nanti saya jadi terikat,” paparnya.

Wakil Kepala SMA Negeri 3 Semarang bidang akademik, sekaligus Pembina olimpiade kimia, Emmy Irianingsih menuturkan bahwa Alan memang sangat tidak mudah puas. Ia menambahkan, tanpa dibina pun Alan sudah mampu mengembangkan diri. “Tapi kami tetap mengundang pembina lain untuknya,” urainya.

Alan bersama tiga rekannya, Fahmi Naufal Rizki dari Tangerang, Abraham Natahanael dari Surabaya, dan Regina Rachel dari Makassar menjadi delegasi Indonesia di Georgia dan harus bersaing dengan ratusan pelajar dari mancanegara. Pada IChO 2016, kontingen Indonesia mampu meraih dua  medali perak dan dua medali perunggu. Medali perak diraih Alan dan Fahmi, sedang dua rekannya yang lain meraih medali perunggu. (vit)