Home > METRO BERITA > KULINER > Ganjel Rel, Roti Warisan Belanda yang Hampir Punah  

Ganjel Rel, Roti Warisan Belanda yang Hampir Punah  

Ganjel Rel Semarang. Foto: santhiserad.com
Ganjel Rel Semarang. Foto: santhiserad.com

Warnanya coklat, bantat, beraroma rempah-rempah dan bertabur biji wijen. Sekilas, roti yang satu ini tidak tampak menarik apalagi lezat. Tapi, roti ini adalah cemilan wajib untuk diperebutkan saat tradisi Dugderan.

Adalah roti ganjel rel yang dimaksud. Nama aslinya adalah roti gambang. Disebut ganjel rel karena tekstur kue yang bantat, keras dan berwarna coklat, seperti kayu penyangga rel kereta api. Roti ganjel rel merupakan salah satu makanan khas Semarang selain wingko babat, lunpia dan bandeng presto.

Resep ganjel rel ini pertama kali diperkenalkan oleh bangsa kolonial Belanda. Kala itu, ganjel rel sering dijadikan cemilan minum teh para noni dan sinyo Belanda. Namun saat ini, resep ganjel rel adalah milik warga Semarang. Roti ini bahkan dibagi-bagikan secara gratis setelah prosesi Dugderan, yaitu tradisi dimulainya awal bulan puasa di Semarang.

Roti ganjel rel ini sempat hampir punah. Beruntung masih ada produsen yang mau membuat roti beraroma kayu manis ini secara massal agar dapat dinikmati banyak orang tanpa menunggu saat Dugderan saja. Kini, roti ganjel rel ini dapat Anda beli di pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran ataupun di Pasar Johar, dengan harga sekitar Rp. 21 ribu per wadah. (ren)