Home > METRO BERITA > Geliat Perkampungan Kumuh di Semarang jadi Sentra Industri Limbah Kayu

Geliat Perkampungan Kumuh di Semarang jadi Sentra Industri Limbah Kayu

METROSEMARANG.COM – Beberapa anak muda sibuk mengecat lembaran papan kayu di depan rumahnya di RT 03/RW IV, Kampung Kabangan, Kelurahan Kauman, Semarang Tengah, pada Kamis (17/11) sore. Kedua tangan mereka cekatan mengambil tumpukan papan kayu untuk dicat hitam, begitu seterusnya sampai pekerjaan itu rampung.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Aktivitas anak-anak muda Kampung Kabangan mengolah limbah kayu menjadi aneka kerajinan. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Capek sih, tapi saya tetap semangat karena ini sudah jadi pekerjaan saya sejak lama,” kata Ali Musthofa saat ditemui metrosemarang.com.

Ali, sapaan akrabnya mengaku beruntung  bisa tinggal di Kampung Kabangan. Sebab, kampung tersebut dikenal sebagai pusat kerajinan limbah kayu yang cukup populer di mata warga Semarang.

Dari tangan-tangan terampil yang ada di sana, puluhan kilogram limbah kayu diubah jadi puzzle, miniatur mainan kayu, meja belajar hingga figuran dengan kualitas barang yang apik. “Ini lagi mengecat papan buat meja belajar,” ucapnya seraya menambahkan bahwa ia mendapat upah Rp 50 ribu-Rp 60 ribu tiap hari.

Ali hanya satu dari sekian banyak warga Kabangan yang menekuni pembuatan meja belajar dari limbah kayu. Saban hari ia mampu mengecat 100 lebih papan kayu.

Sama seperti Ali, banyak remaja tanggung lainnya yang menekuni pekerjaan serupa. Abi Bagus Saputra salah satunya. Ia juga tengah giat membuat meja belajar.

“Sudah sejak 2009 saya kerja membuat meja belajar dari limbah kayu. Bahan bakunya didapat dari kayu-kayu sisa produksi pabrik di Terboyo kemudian dijual ke Kalimantan hingga luar kota Semarang,” terang Abi.

Saat ini, ratusan pembeli berdatangan untuk memesan meja belajar hasil karyanya. Tiap unit ia jual seharga Rp 16 ribu-Rp 18 ribu.

Azzam Fatoni bangga atas jerih payah sekumpulan anak muda yang tekun mengerjakan pembuatan meja belajar dari limbah kayu. Pencapaian ini di luar ekspektasinya, mengingat awalnya Kampung Kabangan tak lebih dari perkampungan padat penduduk yang berada di jurang kemiskinan.

Dengan kondisi aktivitas perekonomian di Kampung Kabangan yang terus bergeliat, ia kini punya toko kerajinan limbah kayu. “Dari yang dulu cuma ada dua perajin, sekarang sudah bertambah empat perajin,” katanya.

“Lagipula taraf hidup warganya semakin membaik. Puluhan bahkan ratusan warga diberdayakan bekerja sebagai perajin limbah kayu, sehingga para pelanggan kerap memesan kepada kami macam dari Kutoarjo, Cirebon, Kudus sampai luar Jawa,” imbuhnya.

Setiap mengirim pesanan bisa mencapai 1.000 buah. Pesanan yang kian membludak tentunya membuatnya kewalahan. “Makanya setiap tahunnya usaha limbah di sini berkembang sangat pesat,” bebernya. (far)