Home > EXPLORE SEMARANG > Goresan Tangan Mendobrak Keterbatasan

Goresan Tangan Mendobrak Keterbatasan

METROSEMARANG.COM – Dua anak muda terlihat duduk di atas kursi roda di tengah lalu-lalang pengunjung Pameran Inovasi dan Kreativitas Produk Tenaga Kerja Khusus yang digelar di Gedung Rimba Graha, Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (12/3). Di depan sebuah stand berukuran kurang lebih 2×2 meter yang di dalamnya terpajang puluhan lukisan wajah, mereka saling bertukar kata.

Puput dan Zulfikhar melayani jasa lukis wajah di area job fair di Gedung Rumba Graha, Rabu (12/4). Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Rizky Puput Isnaini dan Zulfikhar Fauzi namanya, dua orang kakak beradik yang telah menekuni jasa lukis wajah sejak tahun 2015 lalu. Berawal dari kegemaran corat-coret di masa kecil, kini karya mereka telah menghasilkan pundi-pundi uang.

“Dari kecil memang suka corat-coret, lalu tahun 2015 kok kepikiran pengin beli alat lukis, ya minimal pensil warna, buat nggambar-nggambar gitu,” ujar ┬áPuput menceritakan awal mula ia menekuni jasa lukis wajah.

Dari situ ia mulai berusaha melatih kemampuan untuk menjadikan karyanya semakin bagus. Membiasakan diri untuk selalu mencoret apapun, membuat kemampuan Puput semakin berkembang. “Setiap kali saya menggambar, skill saya semakin bertambah,” tutur gadis 22 tahun itu.

Puput juga berkisah, ia pernah melihat sebuah gambar karya temannya yang diunggah melalui media sosial facebook yang membangkitkan semangatnya untuk terus mengasah kemampuan.

“Saya lihat uploadan (unggahan) facebook temen saya gambarnya bagus, dan saya mikirnya mungkin saya akan bisa menggambar lebih bagus dari temen saya,” katanya.

Meski ia dan adiknya yang berusia tiga tahun lebih muda mengidap Skoliosis (kelainan rangka tubuh), namun itu tak mematahkan semangat mereka untuk terus berkarya. Kegigihannya kini mampu membuat mereka mandiri dengan penghasilan dari penjualan karya yang mereka buat.

Dalam sebulan mereka mampu menghasilkan lebih dari lima karya. “Ya kadang bisa lebih dan sampai kewalahan, tapi juga kadang nggak ada sama sekali juga pernah,” tambah Puput.

Harga karya gambar mereka sendiri bervariasi. Tarif yang dipatok berdasarkan ukuran kertas dan jumlah kepala yang mereka gambar. Untuk satu kepala dalam kertas ukuran A4, Puput memasang tarif seharga Rp 170 ribu dan berlaku kelipatan tergantung jumlah kepala, sedangkan untuk ukuran A3 Puput memasang tarif seharga Rp 300 ribu.

Gangguan fisik dari keduanya terkadang menjadi sebuah kendala dalam mereka berkarya. Penurunan fungsi otot membuat mereka terkadang berimbas pada pengerjaan karya lebih lama.

“Kekuatan kita mungkin dibandingin sama orang orang normal, mungkin 50 persennya, bahkan kurang,” tutur Puput.

Ia juga sempat minder dengan teman-teman seumuran yang kondisinya normal. Namun berbekal kemampuannya yang tidak semua orang miliki, ia mencoba melawan rasa ketidaksetaraan antara ia dan orang orang normal pada umumnya.

“Ya dulu sempat dimarahin sama orang tua, karena setiap habis menggambar tempatnya jadi berserakan gitu, tapi sekarang alhamdulillah sekarang mendukung karena bisa menghasilkan uang sendiri, bisa mandiri secara finansial,” tutup Puput sembari memancarkan senyumannya. (fen)