Home > METRO BERITA > Grebeg Subali, Simbol Persatuan Masyarakat Perkotaan

Grebeg Subali, Simbol Persatuan Masyarakat Perkotaan

METROSEMARANG.COM – Panasnya terik matahari tak menyurutkan semangat anak-anak muda warga Kampung Subali, Krapyak, Semarang Barat. Mereka tetap sibuk mondar-mandir menyelesaikan kebutuhan upacara kirab budaya yang sudah dipersiapkan sejak dua bulan terakhir.

Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

Setengah jam sebelumnya, Jalan ditutup dan dibersihkan, sementara puluhan penari tengah bersiap diri mengiringi gunungan pangan yang melambangkan rasa syukur. Kelompok penari cantik berada di barisan terdepan rombongan dan diakhiri bapak-bapak penabuh gamelan.

Pukul 15.00 WIB kirab yang ditunggu pun dimulai. Gong dipukul, secara perlahan rombongan penari mulai maju saat gunungan pangan sudah dipikul. Hampir dua ribu warga berdiri berjejer membuka jalan menyaksikan kegiatan yang digelar pada Sabtu (20/8) itu.

Diberi nama Festival Grebeg Subali, event yang digelar oleh Karang Taruna Kelurahan Krapyak itu memang bisa disebut kegiatan mempersatukan rakyat. Bagaimana tidak, di tengah hiruk pikuk Kota Semarang, pesta rakyat yang meliputi sembilan Rukun Warga itu justru menjadi momen bergembira bersama sebagai simbol persatuan.

“Sebagai masyarakat kampung di tengah kota, kita memang butuh momen yang menyatukan. Di sini kita kawinkan dengan nilai tradisi,” tutur Tri Subekso, penggagas acara.

Menariknya, kegiatan tersebut tak hanya terbatas kirab budaya. Berbagai agenda
juga digelar. Para pemuda-pemudi juga berpesta menuangkan berbagai gagasannya. Oleh sebab itu, kegiatan pun digeber selama dua hari hingga Minggu (21/8).

Agenda seperti pertunjukan musik dari musisi daerah, pertunjukan teater, pameran mural, workshop wayang suket, lapak komunitas, pameran foto hingga berbagai instalasi tradisional ada di Grebeg Subali.

“Di event yang kedua ini bertepatan dengan suasana kemerdekaan. Kita juga membuat diskusi dengan tema Komunitas Karangtaruna dan Kampung Kota. Diskusi berisi program-program menarik yang bisa dimuat di dalam kampung kota, ” imbuh Tri.

Tidak hanya warga Krapyak, Grebeg Subali 2016 kali ini juga menggandeng banyak pihak. Seperti berbagai komunitas, akademisi, serta seniman. Bahkan, kelompok remaja dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menempuh pendidikan tak jauh dari Kampung Subali juga ikut beraksi dengan menyugukan tarian asli daerahnya.

“Ini bukti gagasan-gagasan nyata warga. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus digelar,” tandas Tri. (yas)