Home > METRO BERITA > Guru Besar Unnes Akan Hadiri Diskusi Kuburan Massal Plumbon

Guru Besar Unnes Akan Hadiri Diskusi Kuburan Massal Plumbon

Misteri Kuburan Plumbon
Misteri Kuburan Plumbon

SEMARANG – Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Wasino, menyatakan akan hadir dalam diskusi “Misteri Kuburan Plumbon, Mengungkap Tabir Kuburan Massal Eks Partai Komunis Indonesia (PKI)”, yang diselenggarakan di Gedung Pusat Informasi Publik (PIP) kompleks Balai Kota Semarang, Selasa (16/12), mulai pukul 09.00.

Menurut Agustin, selaku penggagas acara dari Komunitas Semarang Punya Cerita, diskusi ini merespons gagasan pemerhati HAM yang berkeinginan memakamkan kembali secara layak jenazah-jenazah kuburan massal korban Peristiwa 1965 yang ada di Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

Diskusi juga akan menghadirkan Tedi Kholiludin dari Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa) Semarang dan tokoh-tokoh agama, pemerhati hak azasi manusia (HAM), pemerintah daerah, saksi hidup dan warga masyarakat sekitar kuburan massal, serta lainnya.

“Tiap peserta nanti bisa jadi narasumber dalam diskusi ini. Diskusi ini free untuk siapa saja, silakan hadir. Yang pro maupun kontra silakan berbicara di diskusi ini,” ujar Agustin.

Prof. Wasino berujar, di masa lalu PKI memang merupakan musuh dari rezim Orde Baru, dan PKI sampai kini masih merupakan partai terlarang mengacu TAP MPRS/XXV/1966. Namun tujuan kemanusiaan pegiat HAM untuk memakamkan ulang tersebut merupakan langkah rekonsiliasi yang patut didukung.

Menurutnya, penghormatan terhadap mereka yang meninggal tidak memandang dosa, kesalahan, apalagi agama apa yang dianut oleh jenazah. “Kalau sudah meninggal, jangan bicara lagi soal dosa, tapi hormati mereka sebagai sesama makhluk.”

Pengajar mata kuliah Sejarah Sosial itu juga mengingatkan bahwa tidak semua orang yang terbunuh dalam tragedi tersebut murni terlibat dan memahami ideologi. Dia menjelaskan, pada masa itu situasi serba sulit dan kacau. “Kalau saya tak senang pada seseorang, bisa asal nunjuk dan mengatakan dia sebagai anggota PKI,” ujar penulis Modernisasi di Jantung Kebudayaan Jawa itu. (MS-08)