Guyub Karya di Linkar Rupa Semarang

Ratusan karya seni dari seratusan seniman di Indonesia terpajang dalam pameran Linkar Rupa yang diadakan di Galery Merak Kota Lama Semarang. Foto Metrosemarang
Ratusan karya seni dari seratusan seniman di Indonesia terpajang dalam pameran Linkar Rupa yang diadakan di Galery Merak Kota Lama Semarang. Foto Metrosemarang

SEMARANG – Selama delapan hari, Galeri Merak di Kota Lama Semarang dipenuhi karya-karya seni rupa yang berasal dari ratusan seniman se-Indonesia. Dalam pameran bertajuk Linkar Rupa yang diadakan 1-8 November tersebut, mencoba membuat jejaring dunia seni sekaligus menjalin interaksi antar sesama pelaku seni.

Menurut Farid Madjid selaku panitia acara, tajuk Linkar Rupa diambil dari filosofi sebuah lingkaran. Di mana dari kumpulan titik-titik yang bersatu membentuk lengkungan tertutup, selanjutnya titik-titik itu saling berinteraksi menuju satu titik pusat.

“Sama halnya dengan seniman dan komunitas, seni adalah satu-kesatuan dalam berkesenian untuk saling berinteraksi dalam satu iklim ‘guyub’. Linkar Rupa tidak terbingkai oleh tema spesifik agar membangun ribuan pertanyaan. Kebebasan bukan tujuan utama dari pameran kali ini, melainkan dari kebebasanlah kita bisa menemukan jalan menuju batasan-batasan yang estetik,” katanya.

Dirinya menambahkan, dalam pameran tersebut para seniman yang terlibat menggunakan berbagai media dan tidak dibatasi latar belakang pendidikan dan pengalaman pameran, juga mencakup segala umur. Penyelenggara hanya memberikan ketentuan masing-masing peserta mengikutkan 3 karya berukuran 29,7 x 21 cm yang sudah tertempel pada kertas tebal ukuran 34 x 25 cm dan tanpa pigura (frame).

Walau begitu, ada beberapa pengecualian untuk karya-karya seniman yang tidak sesuai dengan ketentuan pameran akan tetap dipamerkan guna mendukung kebutuhan workshop dan diskusi seni. Hal ini dimaksudkan agar mampu menghadirkan banyak karya dan tetap nyaman saat berlangsungnya workshop dan diskusi seni rupa.

“Linkar Rupa adalah pameran kedua yang diadakan di 2014, hal ini sesuai dengan salah satu program Komunitas Pecinta Seni ORArT ORET yaitu minimal mengadakan pameran sekali dalam satu tahun. Pameran dan workshop seni rupa ini dilakukan adalah sebagai media dalam memotivasi kecintaan masyarakat luas akan ilmu seni,” imbuhnya.

Selain pameran karya, acara tersebut juga dimeriahkan dengan lomba dan workshop. Seperti workshop drawing bersama Singgih Adhi Prasetyo, workshop digital colouring bersama Han Papillon, workshop karikatur bersama Djoko Susilo, workshop teknik melukis realistis fotografis bersama Amin Fuad, dan terakhir dihari penutupan akan ada diskusi bersama Rudy Murdock dan M. Salafi Handoyo mengangkat tema residensi di luar negeri. (MS-15)

Post Author: Tri Wuryono