Home > METRO BERITA > Hendi Larang Sekolah Tolak Siswa Penyandang Disabilitas

Hendi Larang Sekolah Tolak Siswa Penyandang Disabilitas

METROSEMARANG.COM – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menegaskan tidak boleh ada sekolah yang menolak siswa penyandang disabilitas. Semua warga mempunyai hak yang sama terutama terhadap masalah dasar pendidikan dan kesehatan.

Penyerahan bantuan tangan dan kaki palsu kepada penyandang disabilitas, Senin (13/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

‘’Tidak boleh ada sekolah yang tidak mau menerima penderita disabilitas. Di Semarang sudah kami sampaikan kepada seluruh kepala sekolah agar tidak membeda-bedakan persoalan disabilitas,’’ kata Walikota pada penyerahan bantuan kaki dan tangan palsu untuk penderita disabilitas di Karangayu, Senin (13/11)

Hendi, sapaan walikota, menyatakan sekolah justeru harus ikut memacu agar intelektualitas para penyandang disabilitas keluar. Tidak kalah penting juga, katanya, mulai sekarang tidak boleh ada gap antara penyandang disabilitas dan warga yang normal.

‘’Sekarang bicaranya harus dari sisi prestasi, intelektual, tidak boleh lagi secara fisik. Karena nyatanya banyak orang-orang sukses yang menderita disabilitas. Seperti Thomas Alpa Edison tunu rungu tapi bisa menciptakan lampu,’’ tegasnya.

Namun, dia mengakui penyandang disabilitas masih mengalami kesulitan untuk masuk dunia kerja. Padahal kebutuhan tenaga kerja beraneka ragam, baik yang lebih membutuhkan kekuatan fisik maupun pemikiran atau konsultan. Karena itu, sepanjang mereka bisa menempati posisi yang tidak mengganggu aktifitas kerja, para penyandang disabilitas harus didukung untuk bisa bekerja.

‘’Jadi, tidak boleh asal melihat difabel kemudian tidak boleh diberi kesempatan kerja. Tapi sesuaikan dengan kebutuhan kantor mereka, sehingga mereka bisa terus berkembang,’’ tandasnya.

Ketua Umum Paguyuban Peduli Penyandang Disabilitas (P3D) Vita Maryunani, juga mengharapkan sekolah tetap mau menerima penyandang disabilitas. Karena laporan yang masuk masih ada sekolah yang tidak mau menerima siswa disabilitas.

‘’Kami menerima laporan ada anak usia 8 tahun karena kakinya diamputasi, sehingga tidak bisa bersekolah. Padahal diamputasinya akibat karena kecelakaan. Mereka masih berhak untk mendapatkan pendidikan,’’ katanya. (duh)

Tinggalkan Balasan