Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > IGBD Desak Negara Beri Perlindungan terhadap Bahasa Jawa

IGBD Desak Negara Beri Perlindungan terhadap Bahasa Jawa

METROSEMARANG.COM – Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dinilai belum mendapat porsi yang semestinya dibanding bahasa nasional maupun bahasa asing. Sebagai upaya rekonsiliasi guru-guru Bahasa Jawa dari tiga provinsi yaitu Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) telah mendeklarasikan Ikatan Guru Bahasa Daerah (IGBD) sebagai wadah aspirasi mereka.

Jajaran anggota IGBD usai mendeklarasikan diri. Foto: metrosemarang.com/istimewa
Jajaran anggota IGBD usai mendeklarasikan diri. Foto: metrosemarang.com/istimewa

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Kota Semarang, Tukijo menuturkan, nasib Bahasa Jawa saat ini cukup memprihatinkan. Menurutnya, keberadaan Bahasa Jawa sudah makin terdesak lantaran hadirnya bahasa asing di sekolah. Sementara Bahasa Jawa hanya dimasukkan ke dalam muatan lokal.

Ia menambahkan permasalahan krusial yang sering dialami guru Bahasa Jawa saat ini masalah sertifikasi, kurikulum 2013, minimnya buku ajar dan literasi, pengelolaan di tingkat lokal yang belum maksimal, termasuk jumlah jam per minggu. “Bahkan di jenjang SD, pelajaran Bahasa Jawa diajar oleh guru yang bukan dari lulusan Bahasa Jawa,” beber Tukijo kepada metrosemarang.com, Rabu (2/11).

Tukijo menambahkan sebagai upaya rekonsiliasi guru-guru Bahasa Jawa dari tiga provinsi yaitu Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur melalui MGMP telah mendeklarasikan Ikatan Guru Bahasa Daerah (IGBD) sebagai wadah aspirasi mereka. Acara tersebut telah diselenggarakan di ruang Dekanat Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) Kampus Sekaran Gunungpati, Senin (31/10) kemarin.

Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa keputusan, antara lain guru Bahasa Jawa akan mengawal RUU Perlindungan Bahasa Daerah, kebijakan pemerintah terhadap nasib muatan lokal Bahasa Jawa, dan perlindungan guru Bahasa Jawa. “Ke depannya perlu adanya kepastian hukum dan perlindungan bahasa daerah. Bahkan bukan hanya Bahasa Jawa, melainkan juga bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia,” pungkasnya. (vit)