Home > METRO BERITA > Ingin Punya Beras ‘Semarang Hebat’, Mbak Ita Kunjungi Petani Demak

Ingin Punya Beras ‘Semarang Hebat’, Mbak Ita Kunjungi Petani Demak

METROSEMARANG.COM – Wakil Wali Kota Semarang, Hevarita Gunaryanti Rahayu bersama Kepala Dinas Pertanian tertarik memproduksi beras varietas unggulan yang dilakukan petani dari Kelompok Tani Sri Rahayu dan Gabungan Kelompok Tani Melati Mandiri, Desa Mlatiharjo Kecamatan, Gajah, Kabupaten Demak. Dia mengakui ingin memproduksi beras yang sama dengan beras Mlatiharjo di Kota Semarang.

Hevearita Gunaryanti Rahayu Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Hevearita Gunaryanti Rahayu
Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

Menurut dia, sejumlah lahan di Kota Semarang bisa untuk mengembangkan padi varietas unggulan. Hal itu dinilai penting di tengah kondisi Kota Semarang sebagai pasar konsumen. “Hasilnya nanti bisa untuk menyuplai kebutuhan hotel yang banyak dikelola di Semarang,” kata Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita, Jumat (22/7).

Pemkot Semarang akan mengupayakan kerja sama pembibitan yang kemudian dibranding sesuai   dengan hasil dan tempat padi itu ditanam. “Misalnya nanti Semarang punya padi varietas lokal yang kami namai padi Semarang Hebat,” katanya.

Petani dari Kelompok Tani Sri Rahayu dan Gabungan Kelompok Tani Melati Mandiri, Desa Mlatiharjo Kecamatan, Gajah, Kabupten Demak Hery Sugiartono mengatakan, pihaknya produksi beras hitam, merah, dan beras Jepang. Harga jualnya lebih tingi di atas Rp 20 ribu per kilogram.

Tercatat, beras hitam yang mereka produksi mampu dijual seharga Rp 30 ribu, beras merah Rp 20 ribu, beras Jepang Rp 16 ribu. Menurut Hery, beras yang diproduksi petani di kampungnya itu banyak diual oleh perorangan dengan pemasaran online, meski begitu tak sedikit perusahaan ingin memasarkan dalam skala besar.

“Usianya pendek. Beras hitam misalnya, kami tanam hanya 3,5 bulan saja yang biasanya sampai 6 bulan,” kata Hery.

Dia mengaku mendapat pendampingan peneliti balai tanaman pangan Bogor dan bantuan bibit padi hibrida dari Tiongkok yang ternyata  gagal karena tak  cocok dengan iklim tropis. “Bibit dari Tiongkok itu dikawin silangkan dengan varietas lokal yang hasilnya memunculkan kualitas lebih baik yang diberi nama beras sesuai nama kampung kami,” pungkasnya. (ade)