Home > METRO BERITA > Fokus Metro Semarang > Ini 5 Fakta tentang Lokalisasi Sunan Kuning

Ini 5 Fakta tentang Lokalisasi Sunan Kuning

Penghuni Lokalisasi Sunan Kuning saat dilakukan pendataan. Foto Metrosemarang
Penghuni Lokalisasi Sunan Kuning saat dilakukan pendataan. Foto metrosemarang.com/dok

 

METROSEMARANG.COM – Resosialisasi Argorejo atau akrab disebut Sunan Kuning adalah lokalisasi terbesar di Kota Semarang. Konon, Sunan Kuning lebih dulu ada sebelum Lokalisasi Dolly di Surabaya beroperasi di tahun 1967. Lokalisasi ini juga sempat ditutup dan beberapa kali berpindah lokasi, sebelum akhirnya menetap di kawasan Kalibanteng.

Berikut ini, beberapa fakta tentang Lokalisasi Sunan Kuning yang disarikan dari beberapa sumber:

1. Lokalisasi Sri Kuncoro

Sebelum menjadi Resosialisasi Argorejo, dulunya kompleks ini bernama Lokalisasi Sri Kuncoro. Hal itu sesuai nama jalan utama di lokasi tersebut yang biasa disingkat SK. Nama Sunan Kuning sendiri sebenarnya adalah Soen Koen Ing, seorang tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari etnis Tionghoa. Makam Sunan Kuning berada di wilayah administratif Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat. Letaknya di puncak bukit kecil, sebelah utara Jalan Muradi Raya. Belakangan, singkatan SK justru identik dengan Sunan Kuning.

Ketika pertama kali dibuka pada 1966, daerah ini hanya memiliki tidak lebih dari 120 wanita tuna susila dan 30 orang germo atau mucikari. Pada awal tahun 1980-an dan akhir tahun 2000-an ada lebih dari 446 wanita tuna susila bekerja di kompleks tersebut, bersama 138 germo atau mucikari. Sampai saat ini, setidaknya ada lebih 500 an pekerja seks yang beroperasi di Sunan Kuning.

2. Hari Jadi Sunan Kuning

Lokalisasi ini diresmikan pada masa pemerintahan Wali Kota Hadi Subeno lewat SK Wali Kota Semarang tanggal 15 Agustus 1966, No 21/15/17/66. Lokalisasi ini resmi ditempati pada tanggal 29 Agustus 1966 Sehingga tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadinya Lokalisasi Sunan Kuning.

3. Berpindah-pindah Tempat

Sebelum menetap di Kalibanteng, lokalisasi ini sudah mengalami beberapa perpindahan. Sekitar tahun 1965 di kota Semarang terdapat germo serta mucikari dengan anak buahnya para wanita tuna susila beroperasi di sekitar jembatan Banjir Kanal, Jalan Stadion, Gang Warung, Jagalan, Sebandaran, Gang Pinggir, Jembatan Mberok dan lain-lain. Berkeliarannya para wanita tuna susila yang beroperasi di jalanan mengakibatkan keresahan penduduk yang berada di daerah sekitarnya.

Agar para para pekerja seks ini tidak berkeliaran di jalanan lagi, maka oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mereka di tempatkan menjadi satu di sebuah perkampungan yang bernama Karang Kembang (sekarang depan SMA Loyola). Lokasi di Karang Kembang dan rumah bordil liar di sekitar Jalan Gendingan pada tahun 1963 dipindahkan ke sebuah bukit di daerah Kalibanteng Kulon yaitu di Argorejo.

4. Ditutup Tahun 1998

Resosialisasi Argorejo sejak tahun 1998 dinyatakan tutup. Para penghuni, sebagian pulang ke kampung, namun tidak sedikit di antara mereka beroperasi di pinggir jalan. Karena kondisi ini dianggap lebih berdampak buruk, maka sebagian WTS kembali lagi ke Argorejo. Pada sekitar tahun 2000 lokalisasi tersebut dibuka kembali dan tetap beroperasi.

Sebelumnya, sekitar tahun 1984-1985 ketika Semarang dipimpin Wali Kota Iman Soeparto Tjakrayudha sempat timbul wacana untuk memindahkan lokalisasi tersebut ke Desa Dawung, Pudakpayung. Namun rencana tersebut gagal total, meski sebagian besar mucikari sudah menyerahkan uang muka untuk membeli kapling di lokasi lokalisasi baru tersebut.

5. Tarif Kencan

Tarif yang ada di kompleks pelacuran Sunan Kuning saat ini berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu untuk sekali main bahkan ada juga yang lebih besar tergantung dari kesepakatan antara pelacur dengan pelanggannya. Tahukah Anda, harga ini melesat jauh dibandingkan ketika masih berada di Karang Kembang yang hanya berkisar antara Rp 5.000 sampai 15.000. Itupun untuk kelas primadona. (byo)